PARTNER

Selasa, 16 Februari 2010

BLOG DAN JURNALISME DI ZAMAN MEDIA PARTISIPATORIS

BLOG DAN JURNALISME
DI ZAMAN MEDIA PARTISIPATORIS
(adapted from
Weblogs and Journalism in the Age of Participatory Media
july 2003)

Kita menyadari bahwa kini kita tengah memasuki jaman dimana akses informasi dan distribusi informasi sudah dengan sangat mudah didapatkan. Kini sudah tersedia berbagai macam perangkat dan alat yang bisa mempermudah siapapun untuk bisa memproduksi sebuah tulisan dan tentunya telah mengantarkan kita kepada jaman dimana setiap orang memiliki hak dan kemudahan yang sama untuk bisa membuat sebuah tulisan, diluar apakah itu tulisan yang berbobot atau hanya sekedar iseng belaka. Namun setidaknya dari hal ini kita paham perbedaan antara reportase jurnalistik baik itu amatir maupun profesional dengan penerbitan personal - dan bahwa blog merupakan salah satu media dimana karya tersebut bisa dipublikasikan. sulit sekali untuk benar - benar memahami implikasinya terhadap budaya, aktivitas jurnalistik dan kepada masyarakat.

sekarang mari kita mulai dari blog terlebih dahulu - sebuah media yang diperbaharui secara berkala, dengan jumlah terbitan yang ditampilkan berdasarkan pada urutan waktu posting, dan yang mendapatkan tempat teratas adalah postingan yang paling terbaru. Bloger belakagan ini banyak yang kemudian menampilkan link yang menuju kepada artikel - artikel pilihan dan kepada situs - situs tertentu, biasanya juga dengan dibubuhkan beberapa komentar yang menjelaskan link - link tersebut. Terlebih lagi sekarang ada perangkat lunak yang memungkinkan seseorang dapat mempublikasikan artikel dengan cara yang sangat mudah dan dengan jumlah yang banyak.
hiperteks merupakan bagian yang paling fundamental dalam aktivitas weblog. Ketika seorang bloger menempatkan link yang merujuk pada bahan lainnya yang tersedia secara online, maka tanpa terkecuali mereka pun langsung terhubung saru sama lainnya. Hiperteks telah memungkinkan seseorang untuk merangkum dan mengkonseptualisasikan sebuah cerita yang kompleks dengan disertai oleh beberapa link yang merujuk pada beberapa bahan dan referensi utama dari tulisan tersebut. dan yang paling penting adalah bahwa link tersebut menyediakan keterbukaan atau transparansi yang tidak mungkin dapat diberikan atau disediakan oleh karya - karya publikasi cetak (paperbased). link - link tersebut memungkinkan penulis untuk merujukan atau mendasarkan opininya secara langsung pada bahan - bahan lainnya yang tersedia secara online, hal ini memungkinkan pembaca untuk melakukan crosscheck terhadap sumber - sumber tersebut yang pada akhirnya mereka mampu untuk memastikan dan memutuskan apakah tulisan tersebut benar - benar valid atau memastikan si penulis benar - benar paham atas apa yaang ditulisnya ataukah hanya paham secara sebagian saja. Blogger yang menyediakan sejumlah referensi namun tidak menyertakan sumber - sumber onlinenya mungkin bisa terjatuh kepada kondisi dimana intelektualitasnya dipertanyakan (hahahaha...aku sendiri jadi kesindir).

sekarang kita bicara apakah weblog itu termasuk kedalam aktivitas jurnalisme/jurnalistik?
klaim terkini yang menyatakan bahwa semua aktivitas weblogging merupakan termasuk kedalam aktivitas jurnalistik, telah direvisi dengan pendapat bahwa beberapa atau sebagian weblog menerapkan aktivitas jurnalistik, jadi tidak semuanya gitu deh. Seperti misalnya blog yang berisi tentang diary atau catatan harian, atau catatan mengenai rencana pernikahan atau bahkan yang merencanakan suatu acara bagi kelompoknya dalam berbagai segi tidak dapat dimasukan kedalam aktivitas jurnalistik. Jadi, dalam berbagai diskusi mengenai blog dan aktivitas jurnalistik, pertanyaan utama yang harus dijawab adalah BLOG YANG MANAKAH?ATAU BLOG SEPERTI APAKAH YANG TERMASUK KEDALAM AKTIVITAS JURNALISTIK?
Terdapat empat macam blog yang dikenal secara luas, yakni
1. Blog yang ditulis oleh seorang wartawan / jurnalis.
2. Blog yang ditulis oleh seorang profesional yang berbicara mengenai usahanya.
3. Blog yang ditulis secara perseorangan yang menceritakan tentang kejadian - kejadian tertentu.
4. Blog yang hanya menyediakan link - link yang merujuk pada kejadian - kejadian terkini atau berita - berita terkini.
5. Kalo blog yang isinya cuma "itu" aja kayaknya udah pasti deh gk masuk kualifikasi.

weblog yang secara berkala dikelola dengan tujuan untuk menginformasikan kondisi suatu organisasi akan dimasukan kedalam aktivitas jurnalistik jika memang mereka mendukung standar yang sama dengan apa yang diyakini dalam organisasi. tapi sebagian lagi berpendapat bahwa blog yang secara mandiri dikelola oleh seorang wartawan akan secara otomatis dimasukan kedalam aktivitas jurnalistik. Namun demikian, blog yang ditulis atau dikelola oleh seorang jurnalis tidak melulu harus dikategorikan kedalam aktivitas jurnalistik tertutama jika didasarkan pada beberapa kondisi seperti seorang jurnalis yang menulis novel di blognya. kasus yang menimpa Jayson Blair, seeorang yang terkena sanksi pemecatan oleh the new york times dengan alasan telah melakukan atau membuat cerita karangan dalam berita yang ia tulis, telah menggambarkan bahwa tidak peduli bagaimana reputasi seorang jurnalis, jurnalistik tetaplah jurnalistik yang dicirikan dengan disiplin yang ketat terhadap kode etik dan prinsip - prinsip standar kegiatan jurnalistik, jadi bukan berdasarkan kepada jabatan atau kualitas profesionalisme seseorang.

beberapa orang berpendapat bahwa blog yang termasuk kedalam aktivitas jurnalistik adalah blog yang dikelola atau diproduksi oleh kalangan industri yang menjelaskan kondisi perusahaannya, hal ini disebut sebagai jurnalisme perdagangan atau trade jurnalism. mereka berpendapat bahwa ketika reporter atau wartawan lainnya hanya mendasarkan pada beberapa sumber saja bahkan untuk sebuah cerita yang kompleks (inget media setting dan agenda media), webblog ternyata mampu untuk menceritakan secara lebih kompleks dan utuh mengenai situasi dan kondisi internal perusahaannya. mereka berkomentar bahwa aktivitasnya itu didasarkan pada sebuah integritas yang bisa menjadi sumber atau rujukan yang valid setidaknya untuk ulasan yang akurat, tanpa bias serta analisis yang informatif. namun demikian, bagaimanapun hal itu tidak akan pernah bisa menggantikan tempat seorang jurnalis yang memang memiliki mandat untuk membuat informasi yang berimbang, fair, akurat dan cerita yang lengkap yang dapat dipahami oleh audiens secara umum.

Weblog sebagai media partisipatoris
ketika blogger melakukan aktivitas reportase atau melaporkan sebuah kejadian atau berita, biasanya bentuknya secara praktis lebih kepada sifatnya yang insidental. Mungkin alasan terbesar dari ratusan penulis amatir membuat sebuah weblog adalah lebih kepada alasan bahwa penggunaannya yang sangat praktis untuk mempublikasikan karya atau berupa tulisan. ketika banyak dari para komentator berbicara bahwa webblog sebagai jurnalisme masa depan, padahal mungkin mereka sewaktu - waktu juga mengartikannya sebagai publikasi personal adalah jurnalisme masa depan itu sendiri. Namun diluar itu semua, memang benar bahwa diperlukan sebuah manifes akan bentuk webblog itu sendiri.
jika kita lihat fenomena ini, mungkin bisa dikatakan bahwa weblog merupakan gelombang pertama dari zaman penerbitan yang dilakukan secara personal. nanti pada gilirannya weblog akan digunakan sebagai jurnalisme arus utama. tapi sebagian besar dari mereka akan terus memiliki gaya jurnalisme yang sangat berbeda dengan kalangan jurnalis.Tidak masuk akal jika harus menerapkan kode etik jurnalistik kepada para blogger yang khas dengan sifatnya yang swa sensor.