PARTNER

Sabtu, 04 Desember 2010

Liputan di Mapoltabes Yogyakarta

Hari ini Sabtu (04/12) Saya berkesempatan mengunjungi Mapoltabes Yogyakarta dalam rangka tugas peliputan. Rencananya saya akan mewawancarai Kapoltabes tentang rencana pengamanan menjelang Natal dan Tahun Baru, namun karena beliau tidak ada di tempat, maka saya akhirnya diterima oleh Wakapoltabes AKBP Darmanto.
Saya sempat menunggu hingga 30 menit lamanya hingga akhirnya dipersilahkan masuk.
“Pak Waka (demikian asisten menyebutnya), sedang shalat dhuha. Beliau biasanya lama kalau shalat, bisa sampai setengah jam” ungkap salah satu asistennya.
“Biar mbak, saya tunggu saja, tidak apa – apa”, jawabku.
Selama menunggu, pikiran saya menerawang kemana – mana. Sempat terpikir malu rasanya kalah rajin dengan Pak Waka, ditengah kesibukannya masih sempat menunaikan shalat dhuha, sedangkan saya jarang sekali mendirikan shalat dhuha.
“Shalat dhuha terus ya pak?” tanyaku.
“Alhamdulillah, kalau enggak kan jadinya rugi,” jawabnya.
Awalnya saya mengira bahwa orang yang satu ini pasti serem, jangan sampai salah bicara pokoknya. Tapi anggapan saya ini ternyata salah, beliau menerima saya begitu ramah. Mempersilahkan duduk, bahkan bersedia mengantarkan saya menemui beberapa narasumber yang saya butuhkan untuk berita.
“Bapak tidak keberatan?” tanyaku.
“Tidak apa – apa biar saya antar saja,” jawabnya.
Ah saya merasa sangat dihormati dan dianggap ada. Sangat berbeda sekali dengan pengalaman saya sebelumnya ketika mendatangi Polres S****N. Di tempat ini, saya hanya dilempar ke sana kemari tanpa ada jawaban yang memuaskan.
Empat jam lamanya saya habiskan waktu untuk mewawancarai beberapa anggota polwan Poltabes Yogyakarta. Perempuan – perempuan tangguh ini bersedia saya wawancarai untuk menceritakan pengalamannya selama bertugas.
Disini saya bertemu dengan Brigadir Dewi Anggraeni (30) Anggota Dikyasa Satlantas Poltabes Yogyakarta yang rela menitipkan anaknya ke tetangga karena tuntutan tugas. Atau AKP. Sri Wahyuni Kanit Dikyasa Satlantas Poltabes Yogyakarta yang memantau anaknya lewat sms karena tuntutan tugas juga.
Over all saya merasa senang liputan hari ini, bertemu dengan aparat – aparat yang ramah. Sedikit merubah pendangan saya tentang mereka.

Jumat, 03 Desember 2010

Pak Beye dan ipad


Pak Beye dan ipad
IPAD, apa sih Ipad? Makanan kah? Semacam gorengan gitu? Ah sepertinya bukan. Lucu aja kalau ternyata ada gorengan namanya Ipad. Pertama kali yang terlintas dipikiran saat mendengar kata Ipad, adalah teknologi, teknologi paling gres alias anyar. Jauh jika dibandingkan dengan kalkulator yang sering digunakan para pedagang beras di pasar. Lha ngapain juga ngebandingin Ipad ma kalkulator?
Aku sendiri adalah seorang pengagum ipad. Ingin sekali rasanya mempunyai gadget canggih yang satu ini. Tapi… harganya itu lhoo, belom kesampe’an. Off the record aja ya, beberapa kali aku berhasil menjadi buronan no satu bapak kos, karena menunggak uang kos selama beberapa bulan.
Sebenarnya ada ipad – ipad yang lain yang menawarkan harga lebih murah. Ada yang namanya apad dan bahkan dengan nama ipad. Tapi bedanya, gadget yang ini diproduksi oleh perusahaan asal china, jadi wajar saja jika harganya lebih murah. Dan aku sama sekali tidak tertarik. Beberapa teman mengatakan kalau kualitasnya jauh jika dibandingkan dengan yang asli, cepat rusak, dan layar sentuhnya kurang sensitif. Ya iyalah, dari harganya aja udah beda.
Tapi bukan hanya dari segi kualitas aja, produsen ipad, memiliki brand yang luar biasa terkenal. Penuh gengsi dan kelas atas banget. Ya dialah apple inc. perusahaan terkenal yang memproduksi Mac, Iphone, dan Ipod. Apple berhasil mengembangkan usahanya dengan mengedepankan gadget teknologi tinggi dan desain yang sangat simple tapi tidak kalah dari segi performance nya. Apple inc hadir dengan logo, buah apel separoh. Bisa anda bayangkan, itu baru separo, gimana kalo ternyata nanti apple inc, mengganti logonya dengan buah apel yang utuh. Aku sendiri belom bisa membayangkannya. Yang jadi pertanyaanku, siapa tuh yang berani makan buah apel perusahaan besar ini? Tega amat, tinggal satu eh malah dimakan, beruntung disisakannya separo. Kalo dihabiskan, bakal kelabakan tuh apple inc gak punya logo..hahaha
Sudah cukup bahas tentang ipad, soalnya aku bukan bahas ipad nya tapi bahas yang ini lhoooo..

Ya.. kemaren akhirnya presiden menjawab polemik yang berkembang di masyarakat terkait dengan isu status keistimewaan Yogyakarta. Namun, beberapa kalangan masih belum puas, bahkan beberapa pengamat politik mengatakan bahwa pidato presiden lebih mirip kuliah umum. ya apapun itu, aku tidak akan mengomentari pidatonya. Lha terus mau ngomongin apaan?
Ya kita ngomongin ipad yang dipakai Pak Pres aja deh ya..
Kalo gitu kembali lagi dunk ke tulisan sebelumnya. Lha terus kenapa kalo kembali lagi? Terserah dunk, orang aku yang nulis koq..hahahaha
Ipad menjadi simbol kemajuan teknologi, simbol kemudahan, simbol kemutakhiran, simbol modern masyarakat urban, simbol kelas, simbol nilai dan simbol budaya popular.
Yang jadi pertanyaanku, kenapa Pak Pressiden gak dari dulu pakai ipad ya? Beliau malah lebih sering pakai ini ni 

Biar mirip yang ini :

Beliau menggunakan ipad yang merupakan simbol modernitas ketika sedang membicarakan tradisionalisme keluhuran budaya Yogyakarta.
Menurut pendapat saya sih, pak presiden kali ini tengah memberikan pesan, ini lho yang modern, yang urban, ipad gituuuuh.
Beberapa orang sempat ramai membicarakan hal ini, misalnya di twitter. Aku terkejut saat ada yang menulis seperti ini “ Pak Presiden jadi Bintang iklan ipad” hah? Yang bener?
Oh ternyata ini toh maksudnya…no komeng ah.
Sebenernya masih banyak yang bisa ditulis, tapi berhubung ada sesuatu hal, jadi udah segini dulu aja ntar disambung lagi
INTERUPTUS ………..