PARTNER

Tampilkan postingan dengan label teori komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori komunikasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Desember 2010

Ah Ini Ternyata Postmodernisme

Apakah mencuri itu salah, tentu akan dijawab relatif, tergantung penilaian masing-masing. Apakah aborsi itu salah, akan dijawab relatif, tergantung siapa yang menilai. Intinya ialah, jawaban dikembalikan kepada masing-masing individu, salah atau benar kembali kepada pertimbangan individu. "Jangan Anda paksakan kebenaran Anda pada orang lain, kebenaran Anda belum tentu benar menurut saya." Demikianlah gejala relativisme.

Fucault, seorang tokoh pemikir radikal post modernisme mengatakan bahwa budaya itu dikonstruksi oleh subjeknya (manusia) yang bebas, tidak lagi oleh agama dan masyarakat. Intinya ialah kebebasan. Inilah semangat yang tampak akhir-akhir ini setelah modernisme. Dua aliran utamanya ialah dekonstruksionisme dan relativisme.

Semangat post modernisme mencoba mendekonstruksi kembali konstruksi-konstruksi yang ada namun tanpa memberikan konstruksi yang baru sebagai alternatif, karena bagi kaum post modernisme segala sesuatu adalah relatif, atau di dunia ini tidak ada yang mutlak. Suatu konstruksi (baik konstruksi pemikiran) akan terus dipertanyakan tentang kebenarannya, dan bisa berubah-ubah setiap saat, karena mustahil menemukan kebenaran yang hakiki.

Tanpa mengerti pun pemikiran Fucault semangat post modernisme itu sudah merambah saat ini di sebagian masyarakat kita.

Gejalanya antara lain: (a) perkawinan tidak dianggap lagi sesuatu yang sakral, sehingga kawin-cerai menjadi hal yang biasa; (b) seks itu banyak, tidak hanya satu (suami-isteri), sehingga punya wanita idaman lain atau pria idaman lain adalah yang hal biasa; (c) seks pra-nikah itu tidak masalah karena dianggap sebagai hak untuk dinikmati; (d) dll, seperti penyalahgunaan narkoba dan meningkatnya angka beragam bentuk kejahatan.

Jadi hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh kaum post modernisme bahwa manusia di jaman ini tidak mungkin lagi patuh dengan nilai-nilai, walaupun dulu memang nilai-nilai itu ada namun sekarang itu semua telah berubah.

Perlawanan terhadap peradaban atau nilai-nilai agama dan kemasyarakatan. Itulah semangat post modernisme. Anti otoritas (nilai-nilai agama, budaya, dan hukum) dan mengagungkan pola hidup individualistik adalah gejalanya. Kalau hal ini yang terjadi maka kehidupan manusia akan mengarah pada kekacauan dan kebimbangan karena tidak ada lagi pengakuan atas standard-standard kebenaran yang ada.

Selasa, 15 Desember 2009

MANAJEMEN KRISIS DAN KOMUNIKASI

iseng - iseng lagi baca surat - surat pembaca di koran, ternyata banyak banget konsumen yang komplain terhadap perusahaan - perusahaan, ada yang disampaikan dengan cara santun tapi ada juga yang terkesan kasar, apalagi kalo di internet or forum, wah bisa lebih kasar lagi. Mumpung masih anget juga, teringat kasus Prita n RS. Omni, sebagai ex mahasiswa PR tentu menarik sekali untuk mengkaji lebih jauh lagi mengenai apa - apa saja yang telah dilakukan oleh RS omni sehingga akhirnya mereka harus menuai kritikan dari sana sini, dan mengalami penurunan konsumen secara drastis.Dalam bahasa PR tentu saja hal ini bisa dikatakan sebagai krisis, nah PR lah yang memiliki peranan yang sangat besar ketika organisasi mengalami krisis seperti ini. atau tragedi lumpur lapindo yang memperlihatkan ketidakberdayaan PR. atau banyak perusahaan - perusahaan atau organisasi lainnya yang tengah mengalami krisis. disinilah kita perlu mengetahui bagaimana dan apa yang harus dilakukan ketika krisis itu terjadi.

krisis manajeman adalah suatu kondisi dimana organisasi mengalami kegagalan menjalankan fungsi - fungsi atau salah satu fungsi menajamen. kegagalan ini bisa menghasilkan dampak yang sangat serius kepada seluruh stakeholder, kehilangan aset - aset penting organisasi, atau bahkan ini bisa saja menjadi akhir dari eksistensi organisasi tersebut. Praktisi PR merupakan salah satu bagian integral yang memainkan peranan penting dalam tim manajemen krisis yang tengah dihadapi ini.
sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita pahami dahulu istilah krisis yang kita pergunakan sejak awal.
krisis merupakan ancaman yang signifikan terhadap performa organisasi yang dapat memberikan konsekuensi negatif jika tidak ditangani secara baik. Dalam konteks krisis manajemen, ancaman tersebut merupakan potensi - potensi kehancuran atau kerusakan yang dapat mempengaruhi performa organisasi secara keseluruhan serta stakeholder. sebuah krisis dapat melahirkan tiga ancaman yang saling berkaitan :

1. kemanan publik
2. kehilangan secara finansial
3. kehilangan reputasi

pada beberapa kasus seperti kecelakaan kerja atau bahkan adanya produk gagal yang termasuk berbahaya, dapat menyebabkan masalah serius bahkan hingga kematian. krisis dapat menyebabkan hilangnya aset secara finansial atau kehilangan pasar atau pelanggan atau konsumen.
Sebagaimana yang dikatakan Dilenschneider (2000), semua bentuk krisis pada dasarnya memberikan ancaman serius terhadap eksistensi dan reputasi sebuah organisasi.Jelas sekali ketiga ancaman yang telah disebutkan diatas merupakan tiga hal yang saling berhubungan. saat terjadi kematian akibat dari gagalnya sebuah produk, maka hal ini akan menyebabkan hilangnya aset finansial dan rusaknya reputasi, sementara itu, reputasi memiliki dampak langsung terhadap jumlah pendapatan yang secara langsung mempengaruhi jalannya organisasi.

Manajemen krisis yang baik merupakan penanganan terhadap ancaman - ancaman tersebut secara berurutan atau secara berkesinambungan. Fokus utama dalam penanganan menajemen krisis adalah yang berhubungan dengan keamanan publik. Kesalahan dalam mengenali atau menganalisis keamanan publik dapat mempertinggi atau memperbesar tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh krisis. Sedangkan masalah reputasi dan finansial dapat ditangani kemudian setelah segi keamanan publik ini sudah ditangani dengan baik. Intinya, manajemen krisis dibentuk guna melindungi organisasi dan stakeholder dari ancaman - ancaman yang membahayakan organisasi dan atau meminimalisir dampak ancaman - ancaman tersebut sehingga kemudian tidak bertambah parah.

Sebagai sebuah proses, manajemen krisis bukan hanya merupakan sebuah proses tersendiri atau berdiri sendiri. Melainkan ia dapat dibagi kedalam tiga tahapan penting yakni :
1. pra krisis
2. respon krisis
3. post krisis / setelah krisis
tahapan pra krisis dititikberatkan pada upaya pencegahan dan persiapan jika suatu saat timbul masalah atau krisis. tahapan respon krisis adalaah tahap dimana manajemen harus merespon krisis yang terjadi, sedangkan pada tahapan post krisis merupakan tahapan evaluasi mengenai upaya atau strategi apakah yang terbaik untuk menghadapi krisis selanjutnya yang mungkin muncul dikemudian hari.

TAHAP PRA KRISIS
Upaya pencegahan meliputi pembacaan atau analisis terhadap segala kemungkinan yang bakal muncul dan bagaimana meminimalisir resiko tersebut. Hal ini merupakan salah satu bagian dari program manajemen resiko organisasi. Tahap persiapan meliputi upaya untuk menciptakan rencana manajemen krisis, memilih dan memberikan instruksi atau mengajarkan manajemen krisis pada tim yang hendak di tunjuk sebagai tim manajemen krisis. Barton (2001) and Coombs (2006) mengatakan bahwa sebuah organisasi dapat mengelola krisis dengan baik jika mereka :

1. memiliki rencana menajemen krisis yang terus menerus diperbaharui sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, minimalnya diperbaharui setiap setahun sekali.
2. Memiliki tim manajemen krisis.
3. Mengadakan pelatihan terhadap kredibilitas, efektivitas dan kemampuan tim manajemen krisis setidaknya setahun sekali untuk mengetahui seberapa jauh mereka mampu menghadapi dan mengelola krisis.
4. memiliki atau mempersiapkan draft khusus yang bisa digunakan ketika terjadi krisis.

Rencana manajemen krisis
dalam bahasa inggris disebut sebagai crisis management plan (CMP) merupakan alat yang bisa dijadikan rujukan dan bukan merupakan rencana yang sifatnya kaku namun dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi yang ada. CMP menyediakan daftar kontak informasi, berbagai macam pengingat mengenai apa saja yang seharusnya ditangani ketika terjadi krisis, dan menyajikan formulasi - formulasi yang bisa digunakan untuk dokumen respon krisis. CMP bukan merupakan panduan yang sifatnya step by step mengenai bagaimana mengelola krisis. Akan tetapi, sebagaimana yang dikatakan oleh Barton (2001), Coombs (2007a), and Fearn-Banks (2001), bahwa CMP bisa membantu kita untuk menghemat waktu penanganan krisis dengan cara mempersiapkan strategi penanganan krisis, pengumpulan informasi. strategi penanganan krisis seperti dengan mempersiapkan tim manajemen krisis. Anggota tim tersebut harus mengetahui tentang apa saja tugas mereka dan apa saja kewajiban mereka selama krisis terjadi. intinya jobdesc harus benar - benar dipresentasikan dengan baik sehingga semua anggota tim manajemen krisis memahami dengan baik mengenai tugas - tugas mereka.

Tim manajemen krisis
Barton (2001) menyebutkan beberapa anggota tim manajemen krisis yang secara umum dipakai secara luas yakni berisi mereka - mereka yang berasal dari kalangan praktisi public relations, legal (praktisi hukum), pihak keamanan, teknis, keuangan, dan sumber daya manusia. Meskipun demikian, komposisi yang dimaksud sangat bergantung kepada jenis krisis itu sendiri. Seperti misalnya, tim manajemen krisis membutuhkan orang - orang yang memiliki latar belakang sebagai praktisi sistem informasi jika memang krisis yang dimaksud ada kaitannya dengan sistem komputerisasi. Kita mampu menghemat waktu sebaik - baiknya jika hal ini sudah kita persiapkan terlebih dahulu karena dengan begitu kita akan tahu dan merespon dengan cepat mengenai siapa yang akan dan mampu mengelola krisis itu pertama kali. Namun Agustine (1995) berpendapat bahwa rencana dan tim manajemen krisis yang telah dibuat atau dibentuk, hanya akan memberikan kontribusi yang sangat sedikit atau bahwa tidak mampu mengelola krisis dengan baik jika mereka belum pernah di tes kemampuan sebelumnya. Mitroff, Harrington, and Gia (1996), menekankan bahwa latihan atau training harus dilakukan sehingga mereka mampu membuat keputusan praktis ketika krisis benar - benar terjadi. Tiap - tiap krisis pada dasarnya memiliki ciri dan keunikan tersendiri bergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil oleh tim penanganan krisis.

public speaker / spokesperson / juru bicara
bagian yang memegang peranan penting dalam pelatihan tim penanganan krisis adalah pelatihan yang diberikan kepada seorang penbicara utama. Para anggota organisasi harus mempersiapkan diri mengenai apa yang harus dikatakan kepada media ketika krisis terjadi. Lerbinger (1997), Feran-Banks (2001), and Coombs (2007a), memberikan perhatian serius terhadap aspek media relation ketika krisis. Maka dari itu, media training harusnya sudah dilakukan sebelum krisis benar - benar terjadi. Beberapa langkah dalam media training :
1. Hindarkan untuk mengucapkan "no comment" karena publik akan merasa bahwa pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh organisasi dan hal ini juga secara tidak langsung memberikan kesan bahwa organisasi ini memang bersalah.
2. Berikan informasi sejelas - jelasnya dengan cara menghindarkan diri dari istilah - istilah teknis. bisa mengakibatkan kebingungan dan memberikan bahwa ada upaya untuk mengaburkan sesuatu.
3. Upayakan untuk terlihat tenang didepan kamera, dengan cara menghindarkan diri dari kesan gagap atau gugup yang bisa melahirkan kesan bahwa kita tengah berbohong. Seorang pembicara atau juru bicara harus memiliki kemampuan public speaking yang baik misalnya dengan cara melakukan kontak mata ketika pembicaraan berlangsung.
4. Ringkaslah semua informasi yang mungkin dibutuhkan publik sehingga tidak terjad kesimpang - siuran dan pesan utama atau pesan kunci yang akan disampaikan kepada stakeholder.

seorang praktisi publik relations memainkan peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan siapa yang akan ditunjuk sebagai juru bicara yang siap untuk menangani setiap pertanyaan yang diajukan oleh media. Media relation merupakan bagian public relations yang sangat bernilai dalam kaitannya dalam upaya penanganan krisis. Seorang Public relations officer dapat menyediakan atau menggelar pelatihan dan dukungan kepada mereka yang akan ditunjuk sebagai juru bicara karena dalam beberapa kasus juru bicara yang dimaksud justru bukan berasal dari kalangan public realtions officer sendiri.

Draft Pesan / redaksional pesan
seorang manajer krisis bisa membuat atau mendesain draft awal yang berisi pesan yang akan disampaikan ketika terjadi krisis. Lebih baik lagi jika draft ini dibuat menjadi sebuah template dengan beberapa titik yang akan diisi dengan informasi - informasi yang penting, jadi ketika krisis terjadi, mereka tinggal mengisi bagian - bagian yang kosong yang ada dalam template tersebut sehingga hal ini akan sangat menghemat waktu penanganan krisis.

Saluran komunikasi
Sebuah organisasi mungkin akan membuat sebuah website khusus yang akan digunakan saat terjadi krisis, terpisah dari website utama mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Taylor and Kent’s (2007), menemukan fakta bahwa website bisa menjadi solusi terbaik saluran komunikasi via internet ketika terjadi krisis. Website ini misalnya bisa berisi informasi mengenai penarikan produk berbahaya.Corporate Leadership Council (2003) menggarisbawahi bahwa website dapat membantu konsumen untuk negetahui apakah produknya termasuk yang ditarik dari pasaran atau bukan dan bagaimana penarikan tersebut akan dilaksanakan. Kemudian, media dna stakeholder akan beralih untuk menggunakan internet untuk mendapatkan informasi. Namun penggunaan website juga sifatnya kontekstual tergantung dari situasi dan kondisi yang mensyaratkan penggunaan saluran komunikasi mana yang lebih efektif.
Beberapa organisasi lainnya menggunakan jaringan intranet. intranet memiliki akses terbatas yakni hanya kepada mereka yang terhubung dengan jaringan intranet perusahaan saja misalnya karyawan. Intranet menyediakan akses langsung kepada pihak - pihak tertentu. jaringan intranet efektif untuk memberikan informasi secara massal kepada pihak - pihak yang dikehendaki saja.

Respon krisis
respon krisis adalah apa yang dilakukan dan apa yang dikatakan manajemen setelah terjadi krisis. Public relations officer memainkan peranan yang sangat penting dalam merespon krisis dengan cara membantu untuk mengembangkan pesan - pesan yang akan dikirimkan atau akan disampaikan kepada publik yang beragam. Terdapat dua bagian penting dalam tahapan respon krisis yakni :

1. Langkah pertama respon krisis
terdapat beberapa hal penting yakni :
- merespon krisis dengan cepat, minimalnya dalam jangka waktu satu jam sudah tersedia upaya yang harus dilakukan.
- akurat yakni dengan cara mengecek ulang semua fakta yang ada.
- konsisten. konsisten terhadap informasi yang hendak disampaikan, sebisa mungkin antar satu informasi dengan informasi lainnya tidak terjadi kontradiksi atau malah simpang siur.
- prioritas utama adalah segi keamanan publik.
- gunakan semua saluran komunikasi yang tersedia, meliputi internet, intranet, dan sistem pemberitahuan massal.
- perlihatkan perasaan simpati kepada korban.
- ingatlah untuk mengikutsertakan para pegawai atau karyawan dalam merespon krisis.
- persiapkan untuk membuat konseling untuk merehabilitasi tekanan dan trauma kepada para korban termasuk keluarganya dan termasuk juga para karyawan.
2. Strategi Pemulihan reputasi
Bill Benoit (1995; 1997) telah memberikan daftar mengenai bagaimana memulihkan reputasi organisasi, yakni :
- menyerang para penuduh, tujuannya supaya lahir kesepahaman atau mengehentikan serangan - serangan dari para penuduh yang beranggapan negatif terhadap organisasi.
- Penyangkalan atau penyanggahan. manajer krisis berupaya untuk menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada krisis yang terjadi.
- upayakan ada kambinghitam dari krisis yang terjadi.
- manajer krisis meminimalisir tanggung jawab organisasi dengan cara menolak anggapan bahwa organisasi tidak mampu menyelesaikan krisis. misalnya dengan provokasi (menyatakan bahwa krisis merupakan hasil dari respon atas aksi - aksi tertentu. Defeasibility ( bahwa kurangnya informasi dapat menyebabkan terjadinya krisis), accidental (bahwa krisis bisa terjadi akibat dari kurangnya kontrol terhadap suatu keadaan).
- Justifikasi. manajer krisis akan meminimalisir kerusakan - kerusakan yang dirasakan akibat dari krisis.
- Reminder. Manajer krisis akan mengingatkan para stakeholder mengenai upaya - upaya terbaik yang pernah dilakukan oleh organisasi.
- ingratiation. manajer krisis memuji para stakeholder atas apa yang sudah dilakukan.
- compensation. manajer krisis memberikan kompensasi kepada para korban.
- apology. manajer krisis memperlihatkan bahwa organisasi telah bertanggung jawab secara penuh dan meminta para stakeholder untuk meminta maaf.

berbicara mengenai tanggung jawab organisasi, maka terdapat beberapa jenis tanggung jawab organisasi, yakni :
1. korban krisis : tanggung jawab minimal
seperti korban bencana alam (disebabkan atas kondisi alam), rumor (akibat dari informasi yang salah yang sengaja diberikan atau disebarluaskan oleh pihak - pihak tertentu), kekerasan di tempat kerja (kekerasan oleh sesama karyawan), kerusakan produk (kerusakan yang disebabkan oleh pihak ketiga)
2. krisis kecelakaan : tanggung jawab rendah
tantangan (stakeholder menganggap bahwa organisasi telah melakukan cara yang salah), kecelakaan teknis (kerusakan atau kesalahan peralatan dan teknologi yang menyebabkan kecelakaan industri), kesalahan teknis produk berbahaya (kesalahan peralatan dan teknologi yang menyebabkan kesalahan produk sehingga menjadi berbahaya).
3. krisis yang bisa dicegah : tanggung jawab tinggi / besar
kecelakaan akibat dari human error (kecelakaan karena human error), produk yang berbahaya yang diakibatkan oleh faktor human error, kejahatan organisasi (organisasi melakukan kesalahan / kejahatan yang melawan hukum sehingga menempatkan stakeholder pada posisi yang berresiko)

tahapan paska krisis
tahapan ini adalah saat dimana organisasi berupaya untuk mengembalikan organisasi pada kondisi normal seperti sedia kala. Krisis bukan lagi pusat perhatian yang utama, namun demikian tetap saja masih harus diperhatikan dengan prosentase yang lebih rendah.
bebarapa hal yang dapat dilakukan pada tahapan paska krisis adalah :
1. Sampaikan semua informasi yang dijanjikan kepada para stakeholder, dan yang pantas diketahui seecpatnya.
2. Selalu memberikan pembaharuan informasi kepada stakeholder berkaitan dengan kemajuan - kemajuan yang telah dicapai.
3. Mengkaji manajamen krisis yang telah dilakukan sebagai bahan pelajaran untuk masa depan dan masukan hal ini kedalam sistem menajemen krisis.

Kamis, 09 Juli 2009

Tradisi Semoitika dalam Ranah Ilmu Komunikasi

Tradisi ini melihat komunikasi sebagai sebuah proses produksi dan pertukaran makna. Mazhab ini menaruh perhatian serius kepada bagaimana pesan berhubungan dengan penerimanya dalam memproduksi makna. Message atau pesan dalam mazhab ini disebut sebagai teks. Dalam kaitannya dengan produk media, seluruh pesan media dalam bentuk tulisan, visual, audio, bahkan audiovisual sekalipun akan dianggap sebagai teks. Jangkauan pemaknaan akan sangat tergantung pada pengalaman budaya dari receiver, yang dalam tradisi semiotik disebut sebagai ‘pembaca’ (reader). Tradisi semiotika tidak pernah menganggap terdapatnya kegagalan pemaknaan, karena setiap ‘pembaca’ mempunyai pengalaman budaya yang relatif berbeda, sehingga pemaknaan diserahkan kepada pembaca. Dengan demikian istilah kegagalan komunikasi (misscommunication) tidak pernah berlaku dalam tradisi ini, karena setiap orang berhak memaknai teks dengan cara yang berbeda. Maka makna menjadi sebuah pengertian yang cair, tergantung pada frame budaya pembacanya .
Charles Sanders Pierce menggunakan teori segitiga makna dalam memahami komunikasi sebagai proses produksi makna. Segitiga ini terdiri dari sign, object dan interpretant.
Salah satu bentuk tanda adalah kata. Sedangkan objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara interpretan adalah tanda yang ada dibenak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Jika ketiga elemen makna itu berinteraksi satu sama lainnya, maka munculah makna yang diwakili oleh tanda itu sendiri.
Keberadaan media menurut Pierce tidak bisa dianggap netral dalam memberikan jasa informasi dan hiburan kepada khalayaknya. Media massa tidak hanya dianggap sekedar sebagai hubungan antara pengirim pesan pada satu pihak dengan penerima pesan di pihak lain. Akan tetapi media dapat dilihat pula sebagai produksi dan pertukaran makna yang menitikberatkan pada bagaimana pesan atau teks harus berinteraksi dengan orang untuk memproduksi makna berkaitan dengan peran teks didalam kebudayaan.

Perpsektif Interpretatif dan Obyektif dalam Penelitian Ilmu Komunikasi

A theory is not just an explanation it is a way of packaging reality, a way of understanding it. Human beings always represent reality symbolically, and we are always operating in the realm of theory. A theory is a system of thought, a way of looking, we can never ‘view” reality purely. Instead, we must use a set of concept and symbols to define what we see, and our theories provide the lenses with which we observe and experience the world.(Teori tidak hanya dipahami sebagai sebuah penjelasan semata, akan tetapi lebih dari itu sebuah teori merupakan sebuah sistem mengenai cara berfikir dan bagaimana memahami dan melihat sesuatu, serta teori merupakan jalan untuk mengemas realitas dan bagaimana caranya memahaminya. Dengan memakai teori, maka kita akan mampu menjelajahi dan memahami dunia berserta dengan fenomena – fenomena yang terjadi didalamnya).

Berbicara mengenai teori, Griffin dalam bukunya A First Look at Communication Sciene membagi dua perspektif utama dalam memahami fenomena - fenomena sosial yang diilakukan lewat sebuah penelitian khususnya dalam kajian ilmu komunikasi. Yakni perspektif obyektif dan perspektif interpretatif.
Baik itu perspektif obyektif maupun perspektif interpretatif, keduanya berada dalam jalur ilmu sosial, namun demikian terdapat perbedaan sebagaimana yang diungkapkan Littlejohn bahwa perspektif interpretative ditandai dengan adanya sebuah pemahaman atau interpretasi yang kreatif dari peneliti yang artinya juga membuka sisi – sisi subyektifitas peneliti. Mengingat ilmu komunikasi merupakan salah satu ilmu yang berada dalam jalur ilmu sosial atau humanitis, maka kedua perspektif ini secara langsung memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kajian ilmu komunikasi.
Meskipun kedua perspektif ini dapat diterapkan dalam penelitian komunikasi, akan tetapi baik itu perspektif obyektif maupun perspektif interpretatif memiliki sejumlah perbedaan dalam beberapa hal, antara lain dalam hal metode penelitian yang digunakan, pengambilan kesimpulan penelitian serta bagaimana posisi peneliti ketika memulai penelitian.
Para penganut aliran interpretative meyakini bahwa kebenaran bersifat subjektif dan makna dapat dipahami dari hasil interpretasi subyektif, serta meyakini bahwa teks memiliki makna yang beragam tergantung dari subyek yang menginterpretasikannya.
Perspektif interpretatif juga meyakini bahwa realitas dipandang sebagai bentukan dari interaksi manusia yang penuh dengan makna atau meaningfull social action. Maka dari itu, realitas dipahami sebagai pemaknaan (meaning) dimana hanya bisa ditafsirkan atau verstehen dan hendak dilukiskan secara mendalam. Pandangan ini sesuai dengan filsafat rasionalitas yang memandang bahwa individu dengan rasionalitasnya mampu menemukan kebenaran, bahkan filsafat ini meyakini bahwa kebenaran tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri manusia itu sendiri, karenanya tidak dicari diluar dirinya. Karena dasar ilmu pengetahuan kemudian berasal dari rasionalitas manusia atau pemaknaan tadi maka ilmu pengetahuan itu tidak bersifat objektif dan tidak bersifat universal. Ilmu pengetahuan semata menggambarkan kekhasan pengalaman suatu kelompok manusia dalam konteks tertentu.
Terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi supaya teori interpretatif dapat dikatakan baik, antara lain; Pertama, harus mampu menawarkan gagasan – gagasan baru dan memberikan pemahaman baru pula yang bermanfaat bagi dunia. Kedua, teori interpretatif harus mampu membawa nilai – nilai kemanusiaan kearah nilai yang terbuka. Ketiga, mampu membangkitkan semangat estetis. Artinya bahwa hal ini akan mampu membangkitkan imajinasi para peneliti dalam menginterpretasikan sesuatu. Keempat, teori interpretatif dikatakan baik jika hasil penelitiannya banyak disepakati dan didukung oleh pihak lain dari disiplin ilmu sejenis, meskipun pada dasarnya dihasilkan dari interpretasi subyektif akan tetapi dukungan dari pihak lain dapat membuat hasil penelitian tersebut terlihat teruji validitasnya. Kelima, bahwa teori interpretatif bisa dikatakan baik jika hasilnya dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat.
sekarang kita sedikit membahas mengenai perspektif obyektif. perpsektif ini meyakini bahwa hanya ada satu kebenaran diluar sana, hanya ada satu realitas diuar sana yang tengah menanti kita untuk mengungkapkannya dengan menggunakan panca indera yang kita miliki. Bagi penganut perspektif ini, prinsip seing is believing dipegang teguh. Mereka juga percaya jika satu prinsip telah berhasil diketahui dan telah dinyatakan valid, maka selamanya ia akan diyakini sebagai kebenaran selama kondisi dan situasinya relative sama.
Berkaitan dengan perilaku manusia, perspektif ini menyakini bahwa perilaku manusia merupakan hasil bentukan dari factor luar yang sifatnya memaksa dan berada di luar kesadarannya. Perilaku terbentuk dari hasil hubungan antara stimulus – respon.
Penganut aliran ini menjunjung tinggi prinsip – prinsip obyektifitas semenjak mereka meyakini bahwa hanya ada satu kebenaran di luar sana. Para penganutnya berupaya untuk membuat sebuah hukum universal yang mampu menjawab berbagai macam fenomena perilaku manusia yang hadir dalam berbagai situasi. Yakni dengan cara menguji hipotesis atau membuat hipotesis dan kemudian membuktikannya atau mengujinya. Dalam pengujiannya ini, metode penelitian yang secara umum digunakan adalah dengan menggunakan metode eksperimen dan survey yang kerap digunakan dengan jenis penelitian kuantitatif.


Rabu, 28 Januari 2009

Tradisi Kritis Ilmu Komunikasi

Tradisi Kritis Ilmu Komunikasi
translated from
Human Communication in The Critical Theory Tradition
by Robert M. Seiler
Berdasarkan definisinya, kritisme mencakup pada penerapan prinsip - prinsip atau nilai - nilai untuk membuat penilaian - penilaian dengan tujuannya untuk Rata Penuhmembawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. tradisi kritis dapat hadir dalam beberapa macam bentuk. misalnya, dalam tradisi kritis retorik yang secara jelas melakukan analisisnya terhadap kualitas wacana dan produksi sebuah wacana. disini yang akan dibahas adalah tradisi kritis ilmu sosial, yang memberikan kritik kepada struktur dasar sosial masyarakat (Littlejohn, 1992 - 238). poin selanjutnya akan membahas semua jenis tradisi kritis ilmu sosial.

  1. Para penganut tradisi kritis ilmu sosial percaya bahwa penting artinya untuk memahami pengalaman kehidupan manusia dalam konteks tertentu. teori kritis berbagi ide dan metodologi dengan perspektif intrepretatif.
  2. Yang membuat tradisi kritis sedikit berbeda dengan perspektif interpretatif ialah bahwa kajian ini menginterpretasi perilaku - perilaku dan simbol - simbol yang ada dalam kehidupan masyarakat dengan tujuan untuk memahami cara - cara dimana berbagai kelompok sosial masyarakat berada pada posisi yang tertekan oleh pihak yang lebih kuat.
  3. Pendekatan kritis mengkaji kondisi sosial dengan tujuan untuk mengungkapkan struktur - struktur yang tersembunyi. secara langsung pendekatan ini berangkat dari pemikiran para strukturalis. teori kritis berpendapat bahwa pengetahuan adalah kekuatan. ini artinya bahwa dengan mengetahui cara - cara bagaimana pihak yang kuat menindas yang lemah, maka membuka peluang kearah terwujudnya pemberontakan oleh pihak - pihak yang tertindas.
  4. Teori kritis sosial menciptakan kesadaran berusaha untuk mengggabungkan teori dan tindakan. teori kritis juga bersifat normatif, dia berusaha untuk menciptakan perubahan yang bisa memberikan pengaruh kepada kehidupan kita.
secara sederhana dapat dikatakan bahwa para pengkaji teori kritis mencoba untuk mengungkapkan pihak - pihak dominan dalam masyarakat yang menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi dan menindas yang lemah.

KRITIK MARXISME
salah satu kajian paling penting berasal dari pemikiran marx dengan perspektif teori sosial marxist nya. aliran ini berasal dari karl marx dan friedrich engels, gerakan ini melahirkan beberapa teori yang juga berkaitan erat dengan kajiannya terhadap kekuatan - kekuatan pihak dominan dalam masyarakat, secara ekonomis, ideologis, teoritis, budaya, dll.

1. marxisme klasik
Dalam communist manifesto (1984), marx dan engels berpendapat bahwa makna produksi ditetapkan secara sangat alami dalam masyarakat. ini merupakan ide dari dasar hubungan suprastruktur. ekonomi dipandang sebagai dasar bagi seluruh struktur soaial, mencakup pula didalamnya institusi dan ide - ide. dalam sistem kapitalis, laba akan mengendalikan produksi dan mendominasi para pekerja. para kelas perkeja ditindas oleh pihak yang memiliki kekuasaan dan yang menikmati keuntungan dari proses produksi tersebut. kebebasan hanya akan terwujud jika para kelas pekerja melakukan gerakan untuk melawan dominasi - dominasi tersebut.
karena fokus kajiannya ini maka, aliran ini juga dikenal dengan pendekatan dalam ekonomi politik.

2. neo - marxism
berawal dari tradisi kritis frankfurt school, telah menjadikan aliran ini sebagai tradisi yang paling terkenal dalam aliran marxisme. frankfurt school berkembang dari dari sebuah institut yang bergerak di bidang penelitian sosial yang dikembangkan sejak tahun 1923 didalam universitas frankfurt oleh Felix Weil seorang ilmuwan ilmu politik yang sangat tertarik dengan ide - ide marxisme. Weil telah belajar di universitas tersebut, membuat disertasinya tentang memasyarakatkan ekonomi. ayahnya, memberian sumbangan mendasar bagi perkembangan institut tersebut. salah satu tujuan utama dari berdirinya institut tersebut adalah untuk mempelajari (dan juga menjelaskan) perubahan - perubahan sosial. Carl Grunberg (seorang ilmuwan ilmu politik) diangkat untuk menjadi direktur di insitut tersebut untuk masa jabatan 1923 - 1929. Grunberg memberikan sumbangan besar pada perkembangan institut tersebut dengan memberikan ide untuk memasukan dan mengkombinasikan kajian historis dan teori dalam analisis tersebut. Max Horkheimer (filsuf dan sosiolog) menjadi direktur untuk masa jabatan 1930 - 1958, ia mencanangkan kajian interdisipliner pada program penelitian. dalam perkembangannya ia berkerjasama dengan Theodor Adorno (filsuf, sosiolog dan pengkaji musik), Erich Fromm (psikolog), Franz Neumann (ilmuwan politik), Friedrich Pollock (ekonom). beberapa tahun kemudian banyak ilmuwan kemudian ikut bergabung, seperti Herbert Mercuse (filsuf), Walter Benjamin (penulis essay pada literatur kritis) dan Leo Lowenthal.

perkambangan gerakan sosialisme telah memaksa kelompok ini berpindah ke Genewa (1933) dan kemudian pada 1935 pindah ke new york, bergabung dengan universitas columbia. pada tahun 1941 kemudian pindah lagi ke california selama masa perang dunia II. pada tahun 1949, Horkheimer, Adorno dan Pollock kembali ke jerman, dan pada tahun 1951 mereka mendirikan kembali lembaga penelitian sosial dengan direkturnya yakni Horkheimer dan Mercuse dan Lowenthal sebagai anggotanya yang berada di amerika. pada tahun 1969. lembaga ini dicekal, tapi kemudian memberikan pengaruh kepada kejayaan Jurgen Habermas, yang mewakili gelombang kedua dari teori kritis.

pencapaian/prestasi

Horkheimer berpengaruh dalam program interdisipliner pada lembaga penelitian sosial, salah satunya memberikan penjelasan lebih untuk memahami kompleksitas kehidupan sosial modern. ia menawarkan gagasan yang menyeluruh yang merupakan penggabungan dari filsafat dan ilmu sosial yang kemudian ia sebut sebagai teori kritis. gabungan dari teori dan praktik, yang memungkinkan para peneliti untuk menggali pertanyaan filosofi tentang waktu dengan menggunakan metode keilmuan, memformulasikan ulang dan membuat pertanyaan yang lebih tepat dan presisi tentang kajian yang diinginkan oleh obyek, dan mengembangkan metode baru tanpa kehilangan pegangan pada prinsip universalitas. tujuannya (ia menambahkan) yakni untuk menempatkan kajian tersebut dalam konteks historis, dalam kurun waktu tertentu, dalam lokasi tertentu, menghubungkannya dengan proses ekonomis, dan kajian terhadap sistem yang berjalan tersebut yang memberikan pengaruh terhadap pemikiran mereka.

dalam masa pengasingannya di amerika, Horkheimer dan Adorno memberikan perhatian serius terhadap iklan media, kritiknya seperti yang terdapat dalam Dialectic of Enlightenment (1944), dialektika pencerahan. kajian yang bisa disebut sebagai edisi pertama dari kajian budaya. disini mereka berpendapat bahwa sebagai industri kesadaran, media memungkinkan untuk memanipulasi publik yang pasif dan irasional, memberikan penekanan khusus terhadap pengaruh media untuk mengarahkan publik terhadap sesuatu yang harus dipikirkan atau dianggap penting bagi masyarakat, serta cara dimana media mendorong masyarakat untuk memikirkan tentang kehidupan mereka.

selama tiga dekade, habermas menjadi salah satu pemikir yang terkenal dalam tradisi ini. selama tahun 1970an, habermas dan mercuse membantu untuk mengembangkan gerakan lanjutan ini di jerman dan amerika. habermas berangkat dari pemikirannya yang luas dan memberikan pandangan yang luas tentang masyarakat dan komunikasi. ia percaya bahwa masyarakat harus dipahami sebagai gabungan dari tiga pilar penting yakni kerja, interaksi dan kekuasaan. kerja, dalam artian dalam tujuannya untuk menciptakan sumber - sumber atau bahan - bahan material yang penting. interaksi, dalam artian penggunaan bahasa (dan simbol) dalam komunikasi. sebab kerjasama sosial sangat penting dalam upayanya untuk bertahan hidup, habermas menyebutnya dengan "praktik - praktik kepentingan".

perintah sosial secara alami menciptakan distribusi kekuasaan. kepentingan alamiah selain berasal dari dominasi - dominasi ia juga berasal dari praktik - praktik kekuasaan. kekuasaan memberikan pengaruh besar terhadap terjadinya distorsi dalam komunikasi, tapi dengan sadar terhadap ideoligi yang mendominasi dalam masyarakat, kelompok - kelompok sosial akan mampu memperkuat posisinya masing - masing untuk merubah keadaan masyarakat. bagi habermas, kajian ini menempatkan perhatian serius pada prinsip persamaan / emansipasi, ini akan menambah kekuasaan yang dimiliki kelompok - kelompok yang marjinal. kehidupan manusia tidak hanya bisa dipahami dari salah satu kepentingan saja kerja, interaksi dan kekuasaan. tidak ada satu aktifitas yang bisa berdiri sendiri melainkan semuanya merupakan gabungan dari ketiga hal tersebut. ketiga hal tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk memahami masyarakat.
tidak ada satupun aspek dalam kehidupan yang bebas kepentingan. masyarakat emansipatoris bebas dari dominasi yang tidak penting dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil keputusan.

Neo - Marxisme hari ini

neo - marxisme berjaya selama kurun waktu 1970an, khususnya di wilayah inggris raya. para teoritikus masih menempatkan perhatian serius pada makna dari komunikasi dalam masyarakat. dalam arti bahwa praktik komunikasi merupakan produk yang dihasilkan dari adanya ketegangan yang terjadi antara kreatifitas individu dalam membingkai pesan dan hambatan - hambatan sosial yang menjadi penghambat kreatifitas tersebut. kebebasan hanya akan tercipta ketika individu mampu terlepas dari belenggu hambatan - hambatan tersebut sehingga ia bebas untuk berekspresi.

salah satu penghalang yang menghambat kreatifitas tersebut adalah bahasa. kelas sosial didominasi oleh bahasa yang menjadikan para kelas pekerja kesulitan untuk mamahami situasi tersebut dan sulit untuk lepas dari pengaruhnya. inilah tugasnya para teorist kritis untuk membuat bentuk baru bahasa yang akan mampu menyuarakan ideologi marjinal dari kelas pekerja sehingga mereka mampu bertahan dan bersaing dengan ideologi dominan. ideologi dapat didefinisikan sebagai seperangkat ide yang membentuk struktur kesadaran kelompok untuk memahami realitas, serta merupakan seperangkat sistem representasi atau seperangkat kode atas makna - makna yang mengatur bagaimana individu (dan kelompok sosial) dalam melihat dunia (Hall, 1989). bagi marxisme klasik, ideologi dipahami sebagai seperangkat ide - ide palsu yang telah terdistorsi oleh kepentingan - kepentingan dari kelas dominan. lebih jauh lagi ideologi merupakan mencerminkan eksistensi sosial.

(a) Antonio Gramsci

antonio gramsci (1891 - 1937), seorang pemikir ilmu politik dan aktivis asal italia, yang merupakan pendiri partai komunis italia. ia percaya bahwa revolusi bolshevik (1917) dapat diterapkan di italia. ia memainkan peranan yang sangat penting saat terjadinya gerakan pada tahun 1920 di italia. waktu itu, benito mussolini (1833 - 1945) muncul sebagai seorang diktator pada tahun 1922. pada tahun 1926, kaum fasis menangkap gramsci dan memasukannya kedalam penjara, dimana ia menghabiskan sisa hidupnya. didalam penjara.

begitu banyak para penganut aliran kritis ini yang meyakini bahwa lingkungan masyarakat merupakan tempat dimana ideologi - ideologi berkumpul dan bersaing satu sama lainnya untuk mendapatkan satu posisi dominan (hal. 247). mengikuti ide gramscian, mereka mendefinisikan hegemoni sebagai sebuah proses dominasi, dimana seperangkat ide dipaksakan kepada pihak lain (gramsci, 1971). dia mengkonseptualisasikan bahwa proses tersebut terjadi dimana sebuah kelompok sosial menempati posisi dominan atas lainnya.

proses hegemoni dapat terjadi dalam berbagai cara dan dalam berrbagai setting. pada intinya, proses hegemoni hadir ketika kejadian - kejadian atau teks - teks diinterpretasikan lewat cara yang menggambarkan adanya promosi satu kelompok sosial yang lebih unggul dari kelompok lainnya, atau ada kelompok sosial yang berkuasa atas yang lainnya. sebagai contoh, selama kurun waktu tahun 1980 an, dunia periklanan sering kali mengeksploitasi tema - tema liberalisme perempuan, tampak seolah media dalam hal ini mendukung untuk memperjuangkan hak - hak perempuan. padahal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa hak perempuan telah diinterpretasikan ulang untuk memperjuangkan kepentingan kapitalis. yang harus diingat adalah bahwa ideologi selalu memainkan peranan yang sangat penting dalam proses tersebut karena ini menjadi sebuah cara dimana manusia memahami pengalamannya dan ini merupakan modal utama bagi mereka ketika memaknai sesuatu.


kajian terhadap iklan beberapa waktu kebelakang telah terjebak kedalam situasi problematis antara ideologi dan hegemoni.dalam melakukan analisis tekstual dan analisis ideologi dalam iklan, peneliti menjelaskan bahwa para pengiklan mendiptakan identitas bagi produknya, menghubungkan merknya untuk menjawab nilai - nilai yang dikehendaki manusia. membeli merk tertentu bukan hanya berarti membeli produk tersebut akan tetapi juga untuk menjawab gaya hidup, seperangkat nilai.
adaran. peneliti memperlihatkan bahwa program televisi telah mendoring kita untuk berpikir bahwa kita sebagai pasar

(b) Louis Althusser

Louis Althusser (1918-90), filsuf asal perancis dan seorang teoritikus ideologi. althusser memberikan formulasi marxisme dalam kerangka strukturalis. dia menulis dua buah buku yang sangat penting, for marx (translated by B. Brewster, 1970), dan Lenin and Philosophy (translated by B. Brewster, 1971).

sesuai dengan apa yang dikatakan althusser (1970), ideologi merupakan bagian dan bingkisan dari masyarakat itu sendiri; dimana ideologi lahir dari praktik - praktik yang sesungguhnya yang dijamin keberadaanya dalam masyarakat. ideologi menciptakan bentuk - bentuk kesadaran individu dan menciptakan pemahaman subyektif seseorang dalam memaknai pengalamannya. dia menambahkan bahwa kita hidup dalam kondisi yang secara sengaja diciptakan / dibentuk, akan tetapi pada dasarnya kita tidak memahami hubungannya dengan kondisi yang sesungguhnya kecuali memahaminya lewat ideologi.

dari perspektif ini, dapat kita katakan bahwa suprastruktur (organisasi sosial) telah menciptakan ideologi, yang pada gilirannya akan berpengaruh kepada individu dalam memahami realitas (hal 247). kelompok suprastruktur ini terbagi kedalam dua entitas yakni represive state apparatus (RSA) seperti politik dan militer dan ideological state apparatus (ISA) seperti pendidikan, agama dan media massa (althusser, 1971). mekanisme represif menekankan atau memaksakan ideologi ketika keberadaannya terancam, kemudian ideological state apparatus menciptakan dan memasukannya kedalam aktifitas komunikasi dalam kehidupan sehari - hari, dengan cara membuatnya tampak normal dan tersamar.


KRITIK FEMINIS

teori feminis (kramarae, 1989, hal 157 - 160) merupakan label umum untuk menjelaskan perspektif atau seperangkat teori yang mendalami arti dari konsep gender. para penganut aliran ini berpendapat bahwa hampir seluruh aspek dalam kehidupan ini dapat dipahami dalam konteks kesetaraan gender.

para penganut aliran ini berangkat dari asumsi bahwa gender merupakan kategori yang diciptakan untuk memahami pengalaman manuisa dalam melihat realitas. alasannya bahwa gender dikonstruksi secara sosial lewat seperangkat sistem nilai - nilai, identitas dan aktivitas dan sedangkan sex merupakan pembedaan secara biologis. aliran ini mencoba untuk menentang asumsi gender yang dipahami oleh orang kebanyakan dan untuk mencapai posisi yang lebih baik dan kebebasan bagi perempuan ditengah posisi lelaki yang ada di dunia ini (hal 313).


Patriarchy. Wood (1997): Patriarchy (the second key concept) means "rule by the fathers." This (dictionary) definition highlights the central idea that patriarchal values, institutions, and practices reflect the experiences, values, and interests of men as a group and protect their privileges while simultaneously denying, dismissing, and/or devaluing the experiences, values, and interests of women as a group (p. 314).

patriarkhi, wood (1997), patriarkhi adalah kunci konsep yang kedua yang berarti "peraturan oleh ayah", definisi ini menandai ide utama bahwa nilai - nilai patriarkal, institusi dan praktik - praktik mencerminkan pengalaman, nilai - nilai dan kepentingan lelaki sebagai kelompok sosial dan melindungi hak istimewanya dengan cara secara simultan mencoba untuk menolak , menghilangkan, nilai - nilai dan kepentingan - kepentingan yang dimiliki kaum perempuan sebagai kelompok sosial.
patriarkhi merupakan sebuah sistem yang menyeluruh dari struktur dan praktik - praktik yang mengekalkan terciptanya ketimpangan atau ketidakadilan antara pengalaman - pengalaman, tanggung jawab, status, dan kesempatan yang dimiliki oleh kaum laki - laki dan perempuan.

para pengkaji komunikasi feminis mencoba menganalisis praktik - praktik dimana bahasa lelaki memiliki bias yang secara langsung mempengaruhi posisi diantara keduanya. bahasa diciptakan dengan perspektif lelaki sebagai acuannya sehingga mengeliminasi kepentingan - kepentingan perempuan. lewat praktik ini posisi perempuan telah ditempatkan pada posisi marjinal yang membuatnya menjadi muted group.

setidaknya terdapat empat aliran utama yang lahir dari aliran ini yakni ;

1. Liberal Feminism

merupakan aliran utama yang telah menginspirsi gerakan perempuan pada tahun 1960 dan 1970an. mereka menganggap adanya ketimpangan dan ketidakadilan tentang persamaan hak - hak mereka sebagai warga negara, dan hal ini bertentangan dengan demokrasi liberal yang melindungi dan menjamin persamaan hak warga negara baik itu perempuan dan laki - laki.

2. Radical Feminism
merupakan aliran yang secara lebih tegas mempercayai bahwa demokrasi liberalpun pada dasarnya memiliki bias patriarkhi, tidak seperti yang dikatakan oleh kaum feminis liberal. maka dari itu, untuk menciptakan kesetaraan tidak hanya berhenti pada perjuangan menciptakan sistem demokrasi liberal akan tetapi harus didefinisikan ulang mulai dari inti utama pola pikir dan struktur masyarakat dalam memahami masalah gender.

3. Marxist Feminism

Marxist feminists focus on capitalism as the source of oppression. They argue that the domination of women by men is a consequence of capital's domination over labour.
aliran ini menekankan pada praktik kapitalis sebagai sumber dari adanya pemaksaan - pemaksaan. mereka berpendapat bahwa dominasi atas perempuan yang dilakukan oleh kaum laki - laki merupakan konsekuensi logis dari dominasi kapitalis yang telah menguasai hak para pekerja.

4. Dual Systems Theory

teori sistem ganda, menurut sylvia walby (1990), bahwa teori ini menggambarkan kemunculan marxisme dan feminis radikal secara bersama - sama - dalam pemahamannya bahwa ketimpangan gender terlahir dari situasi yang rumit gabungan dari patriarkhi dan kapitalisme.


ref;

Althusser, Louis. 1970. For Marx, trans. B. Brewster. New York: Vintage Books.
---. 1971. Lenin and Philosophy, trans. B. Brewster. New York: Vintage Books.
Ardener, Shirley, ed. 1975. Perceiving Women. London: Malaby Press.
Belenky, Mary Field, et al. 1986. Women's Ways of Knowing. New York: Basic Books, Inc.
Bell, Daniel. 1976. The Cultural Contradictions of Capitalism London: Heinemann.
Gilligan, Carol. 1982. In a Different Voice. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Gramsci, Antonio. 1971. Selections from the Prison Notebooks, trans. Q. Hoare and G. Nowell Smith. New York: International.
Kramarae, Chris. 1989. "Coming to Terms with Women's Language." In International Encyclopedia of Communications, ed. Erik Barnouw et al. 2 vols. New York: Oxford University Press, ii, 157-60.
---. 1981. Women and Men Speaking. Rowley, MA: Newbury House.
Littlejohn, Stephen W. 1992. "Critical Theories." In Theories of Human Communication. 4th edn. Belmont, CA: Wadsworth Publishing Co., pp. 238-59.
Marx, Karl. 1888. The Communist Manifesto. London: Reeves.
Penelope, Julia. 1990. Unlearning the Lies of the Fathers' Tongues. New York: Pergamon Press.
Spender, Dale. 1984. Man Language. London: Routledge and Kegan Paul.
Tong, Rosemary. 1992. Feminist Thought: A Comprehensive Introduction. London: Routledge.
Walby, Sylvia. 1990. Theorising Patriarchy. Oxford: Blackwell.
Williamson, Judith. 1978. Decoding Advertising. London: Marion Boyars.
Wood, Julia T. 1997. Communication Theories in Action. Belmont, CA: Wadsworth Publishing Co.

Minggu, 11 Januari 2009

Muted Group Theory

Muted Group Theory
Teori Kelompok Kebisuan (kelompok terpinggirkan)
teori kelompok kelompok merupakan salah satu dari cabang teori kritis, karena ia menitikberatkan pada masalah yang berkaitan dengan kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk melawan orang - orang. sementara para penganut teori kritis lainnya dapat memisahkan secara jelas antara siapa yang kuat dan memiliki kekuasaan dan siapa yang lemah yang tidak memiliki kekuasaan, dengan berbagai macam cara. sedangkan teori ini lebih memilih untuk memisahkan peta kekuasaan kedalam kekuasaan yang dimiliki lelaki dan perempuan.
teori ini bermula dari premis nya yang mengatakan bahwa struktur bahasa memiliki ikatan secara kultural dan berhubungan dengan kultur yang terbentuk. dan karena lelaki memiliki kekuasaan yang lebiih besar daripada perempuan, maka dari itu, lelaki memiliki pengaruh lebih besar terhadap perkembangan kebahasaan, sehingga menghasilkan struktur bahasa yang bias lelaki, dan lebih memihak kepada kekuasaan lelaki. lelaki menciptakan kata - kata dan makna - makna yang kemudian akan terbentuk secara kultural dalam artian menjadi sebuah kewajaran secara sosial. dari bahasa tersebut, mereka akan mengekspresikan ide - ide mereka. disisi lain perempuan, tertinggal jauh atau ditinggalkan jauh dibelakang, mereka tidak diberi tempat untuk menciptakan makna - makna dan meninggalkannya tanpa makna - makna yang bisa mengekspresikan hal - hal yang unik bagi mereka. nah, praktik inilah yang disebut dengan meninggalkan perempuan atau menempatkan perempuan sebagai kelompok kesunyian, atau kelompok kebisuan.
teori kelompk kebisuan memiliki tiga asumsi dasar, yakni ;
  • lelaki dan perempuan memiliki cara yang berbeda dalam memaknai dan memandang dunia, hal ini disebabkan karena diantara mereka memiliki persepsi yang berbeda juga dalam memaknai pengalaman - pengalaman yang mereka alami. pengalaman yang berbeda itu merupakan hasil dari perbedaan - perbedaan peran dan tugas yang dimiliki lelaki dan perempuan dalam lingkungan sosial.
  • lelaki menampilkan dan menetapkan kekuasaan yang mereka miliki secara politis, melanggengkan kekuasaan yang mereka miliki dan dengan menindas ide - ide yang muncul dari golongan perempuan dan mencoba mendapatkan penerimaan publik.
  • perempuan harus merubah ide - ide unik mereka, pengalaman - pengalaman mereka dan makna - makna mereka ke dalam sistem bahasa lelaki, jika ingin suara mereka didengar.
ketiga asumsi itu menjadi dasar hipotesisi dari komunikasi perempuan;
  • perempuan memiliki kesulitan yang lebih besar daripada lelaki untuk mengekspresikan dirinya.
  • perempuan memahami apa yang lelaki maksudkan dengan lebih mudah, daripada yang lelaki pahami atas maksud dari para perempuan.
  • perempuan berkomunikasi dengan sesamanya dengan menggunakan media yang tidak diterima oleh kebanyakan pelaku komunikasi dari kalangan lelaki.
  • perempuan tidak begitu puas dengan komunikasi mereka dibandingkan dengan lelaki.
  • perempuan jarang membuat istilah dari kata - kata baru, tapi sewaktu - waktu mereka melakukannya dengan tujuan untuk menciptakan makna - makna khusus dan unik bagi perempuan.
teori ini tidak mengklain bahwa perbedaan - perbedaan itu menyangkut masalah biologis. akan tetapi, teori ini mengklaim bahwa lelaki memiliki resiko kehilangan posisi dominannya jika mereka mendengarkan ide perempuan, memasukan pengalaman - pengalaman mereka ke dalam sistem kebahasaan, dan memperbolehkan perempuan menjadi partner yang setara dalam penggunaan bahasa dan penciptaan bahasa. bahasa merupakan sesuatu tentang kekuasaan, dan lelaki memilikinya.

Rabu, 20 Februari 2008

Media Ecology


Ekologi Media
ekologi media atau media ecology merupakan salah satu kajian interdisipliner dari teori media yang didalamnya melibatkan kajian tentang lingkungan dan industri media. berdasarkan pada asosiasi ekologi media, ekologi media dapat didefinisikan sebagai kajian industri lingkungan media, ide nya bahwa teknologi dan teknik - teknik, model - model komunikasi dan kode - kode komunikasi memainkan sejumlah peranan penting dalam kehidupan manusia. definisi pada tahun 1977, Marshall McLuhan mengatakan bahwa ekologi media berarti menyusun beberapa media yang beragam guna membantu sesama sehingga mereka enggan untuk keluar dari rangkaian tersebut atau tatanan yang telah terbentuk tersebut, karena pada hakikatnya mereka saling menunjang satu sama lainnya. misalnya, radio mungkin memiliki peranan yang lebih besar daripada televisi dalam membantu anda dalam hal yang berhubungan dengan kemampuan literasi, akan tetapi televisi mungkin juga memberikan bantuan yang sangat besar dalam mengajarkan kita tentang masalah kebahasaan. terinspirasi oleh McLuhan, Neil Postman mendirikan sebuah program kajian ekologi media di New York University pada tahun 1971. dia menjelaskannya sebagai berikut ; ekologi media melihat pada masalah mengenai bagaimana media mempengaruhi persepsi manusia, pemahaman, perasaan, dan nilai - nilai, dan bagaimana interaksi kita dengan fasilitas - fasilitas media yang tersedia atau menghalangi berbagai kesempatan yang tersedia untuk bertahan hidup. istilah ekologi manyangkut masalah kajian terhadap lingkungan mengenai strkturnya, isi dan pengaruhnya terhadap manusia. bersama dengan McLuhan dan Postman, ekologi media kemudian meluas kepada yang lainnya seperti dalam kajian Harold Innis, Walter Ong, Lewis Mumford, Jacques Ellul, Eric Haveock, Susanne Langer, Erving Goffman, Edward T Hall, George Herbert Mead, Margaret Mead, Levi-strauss, Lee Whorf dan Gregory Bateson. istilah ekologi media telah digunakan pula dalam konteks media massa untuk sesuatu yang cukup berbeda-deskripsi perkembangan industri media dan bagaimana mereka mempengaruhi publik. istilah ini banyak digunakan diwilayah asia dimana istilah ini digunakan secara luas dalam dunia bisnis dan dalam konteks konsumen.

kajian media


Kajian Media
kajian media merupakan sebuah disiplin ilmu yang mempelajari masalah institusi, sejarah dan efek media. kajian media didalamnya menggunakan berbagai macam teori dan metode dari beberapa disiplin keilmuan yang meliputi komunikasi politik, ilmu komunikasi, sosiologi, teori sosial, teori literasi, pengaruh media, kajian film/video, antropologi budaya, kajian budaya, filsafat, kajian museum, kritik seni/sejarah seni, teori informasi dan ilmi ekonomi. kajian media dalam konteks tradisi ilmu sosial seperti kajian komunikasi, sosiologi dan ekonomi, termasuk kedalam disiplin ilmu yang menitikberatkan pada masalah media massa, unsur - unsur politisnya, konteks sosial, kepentingan ekonomis, dan peran budaya serta dampak yang ditimbulkan dari penciptaan dan pendistribusian isi media kepada khalayak luas.kajian media dalam konteks humaniora seperti teori literasi, kajian film/video, kajian budaya, dan filsafat, menitikberatkan pada masalah konstitusi media dan mencoba menjawab pertanyaan sejauh mana media membentuk atau menciptakan tentang apa yang disebut sebagai pengetahuan dan segala sesuatu yang dapat dikomunikasikan. tema - tema penting dalam kajian media sebagai sebuah kajian yang interdisipliner, kajian media memiliki beberapa tema - tema penting dalam memahami media, meliputi;
  • 1. produksi isi media
  • 2. kajian khalayak dan efek media
  • 3. komunikasi massa
  • 4. jurnalisme
  • 5. ekonomi politik media
  • 6. komunikasi interpersonal
  • 7. sosiologi kultural
meskipun kebanyakan proses produksi dan praktik - praktik jurnalisme terdapat dalam kajian media dengan memiliki tujuan yang bersifat kontekstual (fourth estate) akan tetapi kedua istilah tersebut sebenarnya tidak bisa dipertukarkan satu sama lainnya. beberapa kajian lainnya yang termasuk dalam kajian media, seperti kajian khalayak, kajian produser, kajian televisi dan kajian radio. kajian film sering menjadi salah satu kajian yang terpisah, lewat kajian televisi dan kajian terhadap video games berkembang diluar disiplin kajian media, sebagaimana hal ini awalnya telah dibuat berdasarkan dasar - dasar teori kritis seperti psikoanalisis, feminisme dan marxisme.teori kritis media melihat pada cara bagaimana kepemilikan media, produksi media dan distribusi informasi bisa memberikan dampak dan pengaruh kepada masyarakat dan menyediakan beberapa alasan - alasan yang lazim bagi kelompok sosial konservatif (efek media), liberal, dan sosialis (korporasi dan kajian sosial), kajian dampak - dampak dan teknik - teknik yang dipraktikan dalam periklanan merupakan salah satu sudut dari kajian media. kajian media kontemporer meliputi analisa terhadap media - media yang baru/mutakhir seperti internet, video games, perangkat mobile, televisi interaktif, dan bentuk media massa lainnya yang terlahir dan berkembang sejak sejak tahun 90-an. karena teknologi - teknologi mutakhir tersebut memungkinkan lahirnya pola - pola komunikasi instan baru yang bersifat nirbatas, menjangkau seluruh dunia seperti dalam chat-room, pesan instan, video-games online, video-conference). komunikasi interpersonal merupakan salah satu elemen penting dalam kajian media - media baru ini. factor lainnya yang mempengaruhi kajian media kontemporer adalah masalah globalisasi : perdebatan masalah globalisasi sebagai sebuah urutan kejadian sejarah atau sebagai sebuah konstruksi sosial. komunikasi politik dan ekonomi politik media pada awalnya, kajian media erat kaitannya dengan politik dan masalah perang (Guo & Wu, p.276) seperti riset kampanye dan propaganda perang. komunikasi politik paling utama mengkaji hubungan yang tercipta antara politikus, pemilih, dan media. hal ini menitikberatkan pada analisis efek media. berikut adalah empat teori utama dalam kajian efek media ; teori peluru, two step flow communications (lazarsfeld,1948), limited effect (lang & lang, 1935), dan spiral kesunyian (spiral of silence) (noelle-neumann, 1984), adn juga masih banyak lagi penelitian - penelitian lainnya yang mempelajari teknik - teknik dalam komunikasi politik seperti retorik, simbolisme dll. pada akhir abad pertengahan, ekonomi politik telah memainkan peranan yang cukup penting dalam literasi kajian media. teori nya mendapatkan sebuah penilaian yang buruk dalam kajian media ditandai dengan lahirnya sebuah karya dari Edward.S.Herman dan Noam Chomsky dalam "manufacturing consent" yang diterbitkan pada tahun 1988. dalam buku ini pengarang mendiskusikan mengenai bagaimana industri media di amerika berjalan, dimana mereka menggunakan istilah model propaganda. model tersebut menjelaskan desentralisasi dan sistem pasar non-konspirasional dalam kontrol dan prosesnya, meskipun sewaktu - waktu ada pihak pemerintah atau pihak lainnya seperti kepentingan lainnya yang mungkin mengambil inisiatif dan menggerakan sejumlah elit media untuk mengendalikan isu apasaja yang akan dibuat dan didistribusikan kekhalayak. kajian budaya center for contemporary cultural studies (CCCS) didirikan oleh Richard Hoggart dan Stuart Hall di university if Birmingham pada tahun 1964. sejalan dengan perkembangan faham marxisme pada tahun 60-an, CCCS mengambil teori - teori kritik dalam konteks arah yang baru, menitiberatkan pada pertanyaan seputar masalah media dan power/kekuasaan, hal ini merupakan bagian dari paradigma etnografi dan semiologi Hall. CCCS telah menjadi bagian penting dalam perkembangan ranah keilmuan ini, menghasilkan beberapa kunci penting dalam penelitian - penelitiannya. dibawah kepemimpinan Stuart Hall, CCCS berhasil menemukan kunci penelitian - penelitian empiris yang mengkaji hubungan antara teks dan audiens.kajian budaya telah merubah definisi dari budaya itu sendiri. definisi budaya berubah yang pada awalnya dilihat dari sudut pandang baik dan buruk, kini dilihat sebagai sebagai sebuah kepentingan sosial dan hubungan - hubungan yang terjalin didalamnya.

Sabtu, 26 Januari 2008

Interaksionisme Simbolik

Interaksionisme Simbolik
Teori Interaksionisme Simbolik berdasarkan pada tiga Asumsi;
-komunikasi terjadi lewat pembentukan seperangkat simbol yang disepakati bersama, simbol - simbol yang dibagi bersama
-konsep "self" dibentuk lewat proses komunikasi
-aktivitas sosial terjadi lewat proses pengambilan dan pembentukan peran sosial
kita bisa mendapatkan pemahaman yang paling mendasar dari teori ini dengan cara mempelajari kata - kata kunci dibawah ini dan bagaimana kata - kata tersebut dipahami secara bersama - sama.
  • I : merupakan bagian aktif dari diri kita yang mampu menciptakan sebuah perilaku.
  • Me : bagian yang secara sosial menunjukan refleksi dari diri kita, menyediakan seperangkat kontrol sosial terhadap perilaku "I"
  • Self : merupakan kombinasi dari "Me" dan "I". Self merupakan proses dan bukan merupakan struktur. perilaku "I" dan "Me" menjelaskan "the Self" sebagai refleksi dari orang lain.
  • Self-Indication : pengalaman dan umpan balik dari perilaku "I" dan penilaian "Me" terhadap "I" dilihat dari sudut pandang peran sosial pihak lain. selanjutnya "Me" akan memberikan arah perilaku yang seharusnya dilakukan "I" selanjutnya.
  • Generalized Other : ciri khas dari anggota masyarakat atau anggota kebudayaan tertentu.
  • Specific Other : gambaran spesifik tentang seseorang yang berada diluar "The Self"
  • Role taking : merupakan proses empati dimana kita menempatkan seseorang pada tempat orang lain, tempat yang lain.
  • Play : sebuah aktivitas dimana anak - anak memainkan dua peran sekaligus yakni sebagai "The Self" dan juga sebagai "The Other", dimana dirinya tidak lagi mengenali "The Self".
  • Game : interaksi dimana seorang anak mampu memainkan perilaku "The Other" yang terlibat dalam aktivitas ini. anak tersebut merupakan "The Self" akan tetapi dia tidak dapat mengenalinya lewat sudut pandang yang lain. dengan demikian, perilaku bukan merupakan respon akan tetapi termasuk kedalam proses interpretatif. individu mampu mendeskripsikan "The Self" hanya (jika terjadi) lewat interkasinya dengan orang lain.
  • Gesture (nonsimbolik) Interaction : tindakan spontan yang timbul akibat respon yang bersifat refleks (misal, menarik tangan secara spontan ketika kita merasakan tangan yang terbakar.
  • Symbolic Interaction : interpretasi terhadap simbol.
  • Symbol : representasi dari sesuatu untuk sesuatu yang lainnya.
  • Significant Symbol : simbol yang memiliki makna yang telah disepakati bersama.
  • Mind : secara sosial, merupakan proses yang berhubungan dengan tingkah laku dimana seseorang mampu melakukan tindakan dan bahkan mampu menciptakan lingkungannya atau menciptakan obyek - obyek dalam lingkungannya.

Jumat, 28 Desember 2007

marxist media theory

konsep media - ideologi

ketika kita membahas dan mencoba memahami media, maka mau tidak mau kita akan berbicara tentang ideologi. ideologi ini merupakan sebuah konsep yang cukup penting ketika kita membicarakan media.
sebenarnya apa sih ideologi itu?
ideologi merupakan cara pandang dalam memahami dunia, sistem nilai, perilaku, kepercayaan - kepercayaan dimana seseorang, kelompok atau masyarakat menggunakannya supaya bisa diakui atau dipandang penting. hal ini dibagikan kepada seluruh anggotanya lewat kultur yang berlaku tentang bagaimana fungsi - fungsi sosial itu seharusnya berjalan.
ideologi dominan
ideologi dominan adalah ideologi yang diberikan kepada kita yang berasal dari institusi - institusi sosial yang memiliki peranan penting dalam kehidupan mastarakat, seperti pemerintah, media, pengadilan, dll, ini merupakan ideologi dominan. ideologi disampaian secara simultan dan dilakukan secara berulang - ulang.
dominan ideologi merupakan seperangkat kepercayaan yang dalam praktiknya telah terinternalisasi dan diyakini sebagai sesuatu yang alamaiah, dan bahkan tidak perlu dipertanyakan lagi. ideologi ini bisa menjadi panduan dalam menjalani kehidupan dirinya sehari - hari.
ideologi dominan mencakup kepercayaan - kepercayaan tentang peran gender, tentang ekonomi, dan tentang institusi sosial.
konsumerisme merupakan salah satu yang telah menjadi sebuah ideologi dominan didalam masyarakat barat, ini terjadi sejak peristiwa revolusi industri terjadi.konsumerisme merupakan pandangan dunia yang menganggap seseorang memiliki derajat tinggi serta akan merasa lebih bahagia ketika dia bisa menghabiskan lebih banyak barang - barang (membeli).
bagaimana ideologi bisa berkaitan dengan kajian media?
teks media selalu merefleksikan nilai atau ideologi - ideologi tertentu yang bahkan sewaktu - waktu tidak kita sadari. sebagai contoh, film - film seperti Die Hard atau Lethal Weapon telah memberikan sebuah pandangan kepada kita bahwa penyelesaian masalah dengan menggunakan kekuatan militer merupakan satu - satunya solusi yang dapat diterima dan hal ini merefleksikan ideologi - ideologi tertentu.
media merupakan tempat yang subur untuk menyebarluaskan ideologi - ideologi tertentu karena ini berkaitan dengan karakteristik media yang mampu untuk menjangkau audiens dengan skala yang sangat luas.

Kamis, 27 Desember 2007

open and closed definitions of ideology

Open and Closed Definitions of Ideology
Eoin Devereux (2003 : Understanding the media, p. 100 - 101)
  • Theorist : Karl Marx (1818 - 1883)
  • Definition of Ideology : Closed/materialist. negative.
  • Mass Media Ideological Role : only indirectly concerned with this issue. nineteenth century newspapers supportive of capitalism. Marx in this role as a journalist and commentator critique the capitalist system within the print media.
  • Conceptualization of Media Audience : Working class or proletariat have "false conciousness"

  • Theorist : The Frankfurt school. various members, including Theodore W Adorno (1903-1969) and Herbert Marcuse (1898-1979).
  • Definition of Ideology : Closed / Materialist. Negative.
  • Mass Media Ideological Role : mass media are a powerful source of propaganda. specially concerned with propaganda within radio and film in nazi germany.
  • Conceptualization of Media Audience : audience are duped by emerging mass media.

  • Theorist : Louis Althusser (1918-1990)
  • Definition of Ideology : Increasingly Open
  • Mass Media Ideological Role : Mass media's role as an ideological state apparatus is to legitimize the capitalist system.
  • Conceptualization of Media Audience : The mass media have the appearance of being relatively autonomous from the powerful capitalist class. the mass media manage to give greater legitimacy to certain kinds of ideas over others.

  • Theorist : Antonio Gramsci (1891-1937)
  • Definition of Ideology : Increasingly Open
  • Mass Media Ideological Role : Mass media play a central role in the creation of hegemony in the interest of the capitalist class.
  • Conceptualization of Media Audience : Applications of Gramsci's ideas see a continious struggle within media texts in order to achieve hegemony

  • Theorist : John B Thompson
  • Definition of Ideology : Open / relaxed. emphasis on dominant and other counter hegemonic ideologies.
  • Mass Media Ideological Role : A tripartite ideological analisys of the mass media is required to take account of the production context, the content of the text and the agency of audience members.
  • Conceptualization of Media Audience : Audiences are active and capable of considerable agency. the effect or not of dominant ideology is based upon taking a depth hermeneutic approach.


Kamis, 13 Desember 2007

representasi media - visual semiotik

visual semiotics
(Daniel Chandler)
Media Representation
representasi mengacu pada sebuah proses konstruksi didalam tiap medium (khususnya dalam media massa) aspek - aspek realitas seperti orang, tempat, obyek - obyek tertentu, kejadian - kejadian, identitas kultural, dan konsep abstrak lainnya. representasi dapat hadir dalam sebuah percakapan, tulisan, serupa dengan representasi yang hadir dalam sebuah media audio - visual.
istilah tersebut mengacu kepada sebuah proses dimana didalamnya tercipta produk - produk dari representasi. misalnya, dalam hubungan pembuatan kategorisasi identitas - kelas, umur, gender dan etnis - representasi tidak hanya mengacu kepada bagaimana caranya identitas tersebut direpresentasikan (atau dikostruksikan) dalam sebuah teks, akan tetapi juga kita melihat bagaimana mereka dikonstruksian dalam sebuah sebuah proses produksi dan resepsi oleh masyarakat dimana identitas tersebut dibedakan dan dibandingkan dengan faktor demografi lainnya.
misalnya, dalam isu the gaze. bagaimana cara lelaki memandang seorang wanita atau memeberikan penilaian terhadap citra - citra perempuan, ataupun sebaliknya yakni dari pihak perempuan terhadap lelaki, lelaki kepada lelaki serta perempuan terhadap perempuan.
inti kajian representasi memfokuskan kepada isu - isu mengenai bagaimana caranya representasi itu dibentuk hingga menjadi sesuatu yang kelihatan alami. jika sudah sampai pada tahap ini, maka representasi itu dikatakan berhasil dibangun dan dipercayai masyarakat sebagai sebuah normalitas alami yang tidak perlu dipertanyakan kembali karena sudah dianggap sebuah kewajaran. dalam sebuah representasi terdapat sebuah sistem yang disebut sistem representasi, yang artinya pembangunan sebuah konsep representasi selalu identik dengan nilai - nilai ideologis yang melatarbelakanginya, bagaimana ideologi - ideologi itu di bentuk dalam sebuah kerangka seperti sistem posisi dalam representasi tentang gender.
semiotik dan analisis isi (kuantitatif) merupakan metode utama dari analisis representasi formal.
- kajian utama semiotik adalah proses representasi.
- relitas selalu direpresentasikan - apa yang kita anggap sebuah pengalaman langsung sebenarnya adalah pengalaman yang dimediasi oleh kode - kode tertentu. representasi akan selalu berkaitan erat dengan proes konstruksi realitas.
- semua teks, meskipun sebelumnya terlihat sangat realistis, pada kenyataannya teks itu merupakan sebuah konstruksi representasi.
- representasi bisa menjadi sangat familiar ketika dia telah melewati proses naturalisasi, dimana hal ini akan dirasakan sebuah sesuatu hal yang alamiah.
- representasi membutuhkan sebuah interpretasi atau pemaknaan.
- realis fokus kepada proses korespondensi representasi dari realitas "obyektif" (dalam artian "kebenaran", "akurasi", dan "distorsi"), disisi lain para konstruktivis fokus pada isu dimana realitas direpresentasikan dan bagaimana yang lainnya tidak direpresentasikan.
- antara strukturalis dan posstrukturalis keduanya sepakat bahwa "realitas" dan "kebenaran" merupakan produk dari sistem - sistem representasi tertentu - setiap representasi dilatarbelakangi dan secara historis tidak dapat diduga - duga.
pertanyaan kunci tentang representasi
a. apa yang direpresentasikan?
b. bagaimana ia direpresentasikan? dengan menggunakan kode - kode apa? dalam sebuah genre yang mana?
c. apakah representasi tersebut dimaksudnkan supaya ia terlihat "nyata"/ "benar", "commonsense" atau supaya terlihat "alami"?
d. apa alasan - alasan dan latar belakang munculnya representasi tersebut? apakah terdapat citra - citra yang dihilangkan?
e. pihak manakah yang menciptakan representasi itu? merefleksikan kepentingan siapakah representasi tersebut? dari mana anda tahu itu?
f. apakah artinya representasi tersebut terhadap anda? dan bagaimana kira - kira dengan orang lain? bagaimana anda menghitung perbedaan antara keduanya?
g. bagaimana orang peduli terhadap representasi ini? berdasarkan pada kode apakah?
h. dapatkah kita bandingkan representasi ini dengan representasi lainnya? bagaimanakah perbedaannya?
i. perhatian replektif - kenapa konsep representasi ini bersifat problematis?

pendekatan - pendekatan untuk mempelajari representasi
a. secara tematis ; kelas, usia, gender etnis, atau lebih luas lagi semacam stereotype, prasangka (biasanya rasial) atau bias (biasanya dalam politik), dan juga topik lainnya seperti kesetiaan, keibuan kekanak - kanakan, kebangsaan.
b. secara general ; seperti bias dalam sebuah pemberitaan, kelas dalam opera sabun atau komedi situasi, dalam hal ini masalah gender.
c. media ; seperti TV, film, komik, majalah.

Rabu, 12 Desember 2007

altercasting

altercasting
merupakan sebuah taktik untuk membujuk orang - orang dengan cara memaksakan mereka kepada peranan sosial tertentu. dengan begitu, maka mereka akan berperilku dan tunduk kepada peranan sosial yang melekat padanya.
sejarah dan orientasi
meskipun istilah ini sering disebut - sebut, akan tetapi istilah ini tidak begitu terkenal dan juga jarang diteliti dalam teori persuasi.
asumsi utama
ketika seseorang menerima peranan sosial tertentu, maka mereka akan mendapatkan beberapa tekanan sosial yang akan membawa dirinya pada posisi tunduk dan memaksa mereka konsisten pada peranan tersebut. lingkungan sosial mengharapkan setiap orang untuk dapat berperilaku sesuai dengan peranan mereka masing - masing dengan cara melaksanakan peranan tersebut secara konsisten, peranan itu pun akan membimbing mereka untuk bisa berperilaku sesuai dengan peranan tersebut.
altercasting berarti bahwa kita memaksa seseorang untuk melaksanakan peran - peran sosial tertentu yang bisa membuat mereka berperilaku sesuai dengan apa yang kita inginkan.
terdapat dua bentuk yang paling mendasar dari altercasting ini ;
1. manded altercasting
artinya bahwa kita mencoba memberitahukan kepada mereka siapakah sebenarnya mereka ini (atau memberitahukan bagaimana mereka seharusnya), dengan cara ;
a. membuat aturan -aturan yang memang sudah ada (menguatkan aturan - aturan tersebut), contohnya, sebagai seorang muslim, maka sudah seharusnya kamu berperilaku,,,,.
b. menempatkan orang lain pada peran - peran sosial tertentu. contohnya, kamu sebagai seorang anak muda sudah seharusnya,,,
c. dengan cara menunjukan identitas baru atau peran - peran baru kepada seseorang, atau dengan cara memberikan perintah kepada seseorang untuk melakukan peran - peran tertentu.
2. tact altercasting
artinya bahwa kita menempatkan diri kita sendiri sebagai pengirim peranan - peranan tertentu yang berfungsi sebagai pembanding dengan peran - peran lainnya. beberapa peran yang sudah sangat umum diantaranya adalah, bodoh - normal, penolong - orang yang bergantung kepada orang lain, kambing hitam - pendosa.
altercasting merupakan sebuah taktik yang cukup ampuh sebab,
a. peran sosial merupakan unit mendasar dari kondisi kehidupan sehari -hari.
b. relatif mudah untuk menempatkan seseorang pada peranan sosial tertentu yang bisa digunakan untuk mengubah perilaku seseorang.
c. relatif mudah untuk menciptakan peranan - peranan sosial yang bisa memikat orang untuk melakukan perilaku - perlikau yang diharapkan.
d. biasanya orang - orang akan dengan mudah menerima peranan sosial yang ditawarkan kepada dirinya.

Selasa, 11 Desember 2007

teori strukturasi adaptif

teori strukturasi adaptif
teori ini berdasarkan pada teori strukturasi dari anthony giddens. teori tersebut diformulasikan sebagai proses produksi dan reproduksi dari sistem sosial yang dihasilkan lewat penggunaan aturan - aturan diantara anggota sistem sosial tersebut serta melalui pola - pola interaksi yang terjadi didalamnya. DeSantics dan poole mengadopsi teori tersebut untuk mempelajari interaksi antara group - group dan organisasi - organisasi terhadap teknologi informasi, mereka sebut hal ini sebagai teori strukturasi adaptif. teori ini mengkritisi masalah pola - pola teknosentris dilihat dari sudut pandang penggunaan teknologi dan mereka menekankan pada masalah aspek - aspek sosialnya. berbagai group dan organisasi menggunakan teknologi informasi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang secara dinamis menciptakan persepsi - persepsi tentang peranan dan kegunaan dari teknologi, dan bagaimana hal ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan dan aktivitas mereka sehari - hari.persepsi tersebut bisa berbeda - beda didalam group - group tersebut. persepsi tersebut memepengaruhi cara bagaimana teknologi itu digunakan dan oleh karena itu memberikan pengaruh kepada produktifitas group atau hasil - hasil group.
teori ini cocok digunakan sebagai pendekatan untuk mempelajari peranan - peranan teknologi informasi lanjut dalam sebuah organisasi. teori ini menganalisa perubahan proses - proses yang terjadi melalui dua sudut pandang kemanfaatannya,
1. tipe - tipe struktur yang disediakan oleh teknologi lanjut.
2. struktur yang melekat pada perilaku manusia sebagai seseorang yang berinteraksi dengan teknologi - teknologi tersebut.

1. teori strukturasi, berkaitan erat dengan evolusi dan perkembangan dari group - group dan organisasi - organisasi.
2. teori ini melihat group atau organisasi sebagai sebuah sistem dengan (pola - pola yang dapat diobservasi mengenai hubungan dan interaksi komunikasi antar orang - orang yang membentuk sebuah struktur didalamnya)
3. sistem diproduksi oleh perilaku - perilaku orang yang membentuk sistem tersebut (seperangkat aturan dan sumberdaya).
4. sistem dan struktur hadir dalam dua model hubungan dimana diantara keduanya menginginkan untuk memproduksi dan mereproduksi masing - masing lewat sebuah perputaran proses. inilah yang dimaksud dengan proses strukturasi.
5. proses strukturasi ni bisa berjalan dengan sangat stabil dan juga bisa saja berubah secara mendasar seiring dengan berjalannya waktu.
6. ini berguna untuk menganalisa group dan organisasi dilihat dari prespektif strukturasi, hal ini berdasarkan pada beberapa pertimbangan yakni,
a. membantu untuk memahami keseimbangan relatif pengaruh yang deterministis dan pilihan - pilihan yang disengaja untuk mengungkap identitas kelompok yang unik.
b. membuat lebih jelas daripada perspektif evolusi karakter group dan organisasi lainnya.
c. memberikan kemungkinan - kemungkinan mengenai bagaimana tiap - tiap anggota mampu untuk memeriksa pengaruh lebih banyak lagi melebihi yang dia anggap bisa lakukan.

Minggu, 30 September 2007

studi etnografi

ethnography

beberapa waktu yang lalu ada teman yang menanyakan apa sih etnografi?kebetulan dalam skripsinya dia menggunakan analisis ini. kemudian saya coba buka di wikipedia dan saya akan mencoba membantu menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara mengalih bahasakan kedalam bahasa indonesia supaya makin banyak orang yang dapat menggunakannya sebagai referensi yang sederhana, karena saya yakin masih terdapat banyak kesalahan dalam penerjemahan artikel tersebut.

ethnography berasal dari bahasa yunani yakni ethnos = orang, dan graphein = menulis. merupakan jenis cara - cara menulis yang kini telah memiliki beragam tingkatan deskripsi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai fenomena sosial yang terjadi, berdasarkan data mentah dari hasil penelitian. ethnography hadir sebagai hasil dari sebuah metode penelitian yang kompleks dan menyeluruh yang ditemukan dari sebuah ide yang mengatakan bahwa seperangkap sistem tidak harus dipahami secara akurat sebagai bagian - bagian yang terpisah satu sama lainnya. beberapa tradisi akademis, khususnya paradigma konstruktivis dan relativis, menggunakan penelitian ini dan menganggapnya sebagai sebuah metodologi penelitian yang cukup penting. banyak dari kalangan antropologis budaya menyebutkan bahwa ethnography inti dari sebuah disiplin keilmuan.
A. antropologi sosial dan antropologi budaya
antropolodi budaya dan antropologi sosial telah dikembangkan dalam sebuah penelitian etnograpi, dan sebagian besar teks yang diterima keduanya merupakan istilah - istilah yang berasal dari etnograpi. misalnya, argonauts of the western pacific (1922, baronislaw malinowski), coming age of samoa (1928, margaret mead), the nuer (1958, E. E. Evans-Pritchard), atau naven (1958, Gregory Bateson). kini para antropolog budaya dan sosial, menempatkan penelitian ini kedalam sebuah istilah yang disebut sebagai etnologi - perbandingan perpaduan dari informasi etnographi - yang jarang dikembangkan untuk tujuan karir. dengan menggunakan antropogi budaya, maka didapat beberapa jenis etnhnographi. dimulai sejak akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an, para antroplog mulai menulis "sebuah bentuk pengakuan" yang secara sengaja digunakan untuk menyingkap kebenaran dan keaslian dari penelitian ethnographi. contoh yang paling terkenal adalah tristes tropiques ( Claude Lévi-Strauss ), the high valley (kenneth read), the savage and the innocent day (david maybury-lewis), juga dijelaskan secara baik pula dalam sebuah karangan fiksi return to laughter (Elenore Smith Bowen). selanjutnya etnograpi dikembangkan lagi menjadi sebuah cara bagaimana menterjemahkan perbedaan budaya dengan cara merepresentasikan efek - efek yang muncul terhadap para peneliti ethnographi. contoh terkenal lainnya, meliputi deep play "balinesse cockfight" (clifford geertz), reflections on fieldwork in marocco (paul rabinow), the headman (Jean-Paul Dumont), dan tuhami (vincent crapanzano). di tahun 80-an etnographi retoris telah dimasukan kedalam sebuah disiplin ilmu tersendiri, dibawah pengaruh pemikiran dari teori literasi dan post-struktural.etnographi eksperimental yang mengungkapkan dan menggemparkan berbagai disiplin samanisme, kolonialisme, dam the wild man (michael taussig), debating muslim (Michael F. J. Fischer and Mehdi Abedi), A Space on the Side of the Road (Kathleen Stewart), Advocacy after Bhopal (kim fortun).
para antropolog buday, seperti clifford geertz dan xavier andrade, mempelajari dan memaknai perbedaan budaya lewat penelitian etnographi yang mendasarkan pada data - data hasil penelitian dari budaya, masyarakat, dan komunitas - komunitas tertentu. wilayah yang akan dikaji tersebut biasanya menghabiskan waktu setahun atau lebih, para peneliti diharuskan untuk hidup berdampingan dengan para penduduk lokal yang menjadi objek kajiannya dan mereka harus mempelajari mengenai kehidupan mereka. peneliti etnograpi merupakan seorang peneliti partisipan/partisipatoris. mereka harus mengambil bagian atau menjadi bagian dari objek kajian mereka dan hal itu harus dipelajari karena hal ini akan banyak membantu untuk memahami perilaku dan pola pikir dari warga atau penduduk lokal.
B. disiplin ilmu lainnya yang berhubungan dengan disiplin etnographi
psikologi, ekonomi, sosiologi dan kajian budaya juga sangaty berhubungan dengan etnographi. sosiologi perkotaan dan dan chicago school dalam beberapa hal berhubungan dengan penelitian etnographi. salah satu contoh yang paling terkenal adalah ( Street Corner Society by William Foote Whyte and Black Metropolis by St. Clair Drake and Horace R. Caton) penelitian tersebut telah dipengaruhi ide - ide pikiran dari para antropolog. interaksionisme simbolis juga telah dikembangkan dari itradisi yang sama dan telah menghasilkan beberapa tema sosiologi etnografi yang mengagumkan, contohnya shared fantasy (gary alan fine), yang mana dokumen - dokumen tersebut berisi sejarah paling awal dari perkembangan permainan peran (role play). akan tetapi meskipun banyak disiplin ilmu dan perspektif - perspekti teoritis yang menggunakan sosiologi sebagai metode entografi, etnografi tetap bukan merupakan sine qua non dari disiplin keilmuan tersebut, seperti yang terdapat dalam antropologi budaya.
etnografi juga digunakan dalam kajian pendidikan, etnomusikologi, performence studies, cerita - cerita, dan linguistik. george spindler seorang antropolog amerika merupakan salah seorang yang pertama kali berhasil membawa studi/metodologi penelitian etnografi kedalam sebuah kelas.begitu juga dengan james spradley yang juga seorang antroplog terkenal dan telah berhasil menerbitkan sebuah buku yang berjudul the ethnographic interview (1979).
metode etnografi juga digunakan dalam sebuah perencanaan bisnis. kumpulan pekerja, manajer dan lain - lain merupakan kumpulan dari orang - orang yang memiliki perbedaan kategori sosial dalam sebuah sistem sosial. tiap - tiap kelompok memperlihatkan perbedaan karakteristik sifat, pola - pola perilaku dan nilai - nilai yang dianutnya masing - masing.
kin semakin banyak yang menggunakan studi ini, salah satu contohnya dalam sebuah universitas, mereka menggunakan analisis ini sebagai salah satu teknik yang harus digunakan para mahasiswanya ketika membuat tugas akhir mereka, khususnya dalam bidang sosial.
antropolog seperti daniel miller dan mary douglas telah menggunakan dat etnografi untuk menjawab pertanyaan akademis seputar masalah perilaku konsumen dan perilaku konsumsi. demikian juga dalam bidang bisnis, metode etnografi bermanfaat untuk memahami bagaimana orang menggunakan sebuah produk dan sebuah layanan jasa, yang merupakan ciri - ciri dari meningkatnya penggunaan metode etnografi untuk memahami para konsumen dan perilaku konsumsi mereka, atau untuk pengembangan produk - produk baru (sering disebut sebagai desain etnografi). adanya konferensi EPIC (ethnographic praxis in industry) merupakan bukti nyata dari hal tersebut diatas.