PARTNER

Tampilkan postingan dengan label pemikir teori komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikir teori komunikasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Agustus 2010

BUKU - BUKU REFERENSI ILMU SOSIAL

ANTONIO GRAMSCI SELECTION BOOKS

1. ANTONIO GRAMSCI - PRISON NOTEBOOKS VOLUME 3


DOWNLOAD DISINI

2. ANTONIO GRAMSCI - BEYOND MARXISM AND POSTMODERNISM


DOWNLOAD DISINI
PASSWORD: ANTOGRAM.rar_tF

3. THE ANTONIO GRAMSCI READER - SELECTED WRITING


DOWNLOAD DISINI

4. ANTONIO GRAMSCI - CRITICAL THINKER


DOWNLOAD DISINI
PASSWORD : ANTOGRA.rar_tF

5. ANTONIO GRAMSCI CULTURE AND ANTHROPOLGY


DOWNLOAD DISINI

6. ANTONIO GRAMSCI HISTORY OF DIALECTIC THOUGHT

DOWNLOAD DISINI
PASSWORD : ebooksclub.org


7. GRAMSCI POLITICAL THOUGHT


DOWNLOAD DISINI

Jumat, 12 Maret 2010

berkenalan dengan Marshall McLuhan

berkenalan dengan Marshall McLuhan
Herbert Marshall McLuhan
The medium is the message
1911 - 1980
are always inside the problem, not out side









Born in Edmonton, Alberta, Canada, July 21, 1911.

University of Manitoba: B. A., 1932; M. A., 1934.
Cambridge University: B. A., 1936; M. A., 1939; Ph. D., 1942.

Taught at University of Wisconsin (Madison): 1936-1937.
Taught at St. Louis University: 1937-1944.
Taught at Assumption University (Windsor, Ontario): 1944-1946.
Taught at St. Michael’s College, University of Toronto: 1946-1979.
Full professor: 1952.

Married Corinne Keller Lewis of Fort Worth, Texas: 1939.

Chairman of Ford Foundation Seminar on Culture and
Communication: 1953-1955.

Co-Editor of Explorations magazine: 1954-1959.

Director of Project in Understanding New Media for National
Association of Educational Broadcasters and U. S. Office of Education: 1959-1960.

Appointed in 1963 by the President of the University of Toronto to
create a new Centre for Culture and Technology, to study the psychic
and social consequences of technologies and media.

Fellow of the Royal Society of Canada: 1964.

Companion of the Order of Canada: 1970.

Rabu, 06 Mei 2009

Tentang Propaganda V

Teoritikus tentang Propaganda Lainnya
Harold Lasswell (1902-1978)
Sebagaimanan Lippmann yang telah menulis tentang propaganda, Laswell juga telah melakukan analisis empiris tentang propaganda. Faktanyan karya – karya seputar propaganda sebenarnya telah ditulis oleh Lippmann sendiri.
Lasswell menitikberatkan pada kedua jenis analisis, baik itu kuantitatif maupun kualitatif analisis tentang propanga, mengkaji isi propaganda dan mengungkapkan pengaruh dari propaganda terhadap audiens.
Lasswell membuat prosedur komunikasi massa dari analisis isi media. Secara umum analisis isi dapat didefinisikan sebagai “investigasi terhadap pesan – pesan komunikasi dengan cara mengkategorisasi isi pesan kedalam klasifikasi – klasifikasi tertentu dengan tujuan untuk mengukur variable – variable tertentu (Rogers, 1994). Dalam essaynya yang berjudul “content of communication”, Lasswell menjelaskan bahwa analisis isi sudah seharusnya memusatkan perhatian pada penghitungan pada seberapa sering / frekuensi symbol – symbol tertentu muncul dalam pesan tersebut, menganalisis arah dan tujuan bagaimana symbol – symbol tersebut mencoba untuk mengarahkan opini public, dan seberapa sering intensitas symbol tersebut digunakan. Dengan cara memahami isi pesan, Lasswell mencoba untuk meraih tujuannya dalam memahami “arus pengaruh yang berjalan dari pengendalian kepada isi dan dari isi kepada audiens (hal 74).
Edward Bernays (1891-1995)
Ketika Lippmann dan Lasswell mengkaji tentang opini public dan propaganda, Bernays mengkaji tentang public relations, propaganda, dan opini public. Bernays (1928) mendefinisikan propaganda sebagai “a consistent, enduring effort to create or shape events to influence the relations of a public to an enterprise, idea, or group" (hal. 25).
Jacques Ellul (1912 – 1994)
Jacques Ellul’s (1912-1994) melihat propaganda dari sudut pandang yang berbeda dengan yang lainnya. Ellul meyakini bahwa propaganda sebenarnya merupakan teknik yang spesifik, yang diperlukan baik itu oleh public maupun oleh pihak yang membuat propaganda tersebut. Dalam propaganda, formasi perilaku orang – orang didefinisikan propaganda sebagai "a set of methods employed by an organized group that wants to bring about the active or passive participation in its actions of a mass of individuals, psychologically unified through psychological manipulations and incorporated into a system" (hal. 61).

Peneliti Komunikasi Massa Sekarang
Mengacu pada teori – teori tradisional yang berasal dari Lippmann, Lasswell, Bernays, dan Ellul, dan teori lainnya, telah memungkinkan kita untuk mengkaji peran propaganda dalam menciptakan opini public. Lippmann (1922) merupakan orang pertama yang mengembangkan ide seputar fungsi agenda setting media. Pada tahun 1972, McCombs dan Shaw telah menggunakan ide ini dalam karyanya tentang fungsi agenda setting media. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji isu – isu kampanye presiden pada tahun 1968, dengan cara mengajukan pertanyaan kepada para pemilih secara acak untuk mengidentifikasi isu – isu kunci pada kampanye presiden dan kemudian membandingkannya dengan isu – isu yang disajikan dalam media kala itu (McCombs and Shaw, 1972).
McCombs and Shaw (1972) menemukan bahwa terdapat korelasi sebesar +0.967 antara penilaian pemilih mengenai isu – isu yang penting, dengan penyajian media terhadap isu tersebut.
Selain itu, Iyengar and Kinder (1982) juga mengembangkan teori Lippmann dengan cara mengambil ide utama dari agenda setting dan priming pada kajiannya.

Kesimpulan
Teori – teori yang telah dikembangkan oleh Lippmann, Lasswell, Ellul dan Bernays sangat penting terutama karena beberapa alas an. Mengacu pada beberapa orang pendahulunya, Lippmann telah mampu untuk membawa perhatian kepada fakta bahwa public dapat dipengaruhi oleh media. Karya Lippmann dan rekan – rekannya telah menjadi dasar dari berbagai penelitian yang dilakukan beberapa waktu belakangan khususnya untuk membantu memahami bagaimanan efek media terhadap public. Lewat karya Iyengar dan Kinder, White, Lewin dan McCombs and Shaw, pemahaman yang lebih komprehensif terhadap media telah berkembang dengan cepat. Public kini telah dibuat sadar dengan berbagai macam fungsi media seperti agenda setting, gatekeeping dan priming serta pengaruh – pengaruh yang potensial yang mungkin berpengaruh pada audiens.
Teori – teori yang telah disajikan menunjukan kedua bentuk efek baik itu model pengaruh langsung atau model pengaruh terbatas. Teoritikus seperti Ellul, cenderung melakukan pendekatan dengan model efek langsung, dimana propaganda ia yakini dapay memberikan pengaruh secara langsung terhadap pemikiran public massa. Sementara itu, teoritikus seperti Lippmann juga meyakini bahwa media mungkin tidak hanya mempengaruhi pemikiran public, akan tetapi mempengaruhi apa yang dipikirkan oleh public.
Kajian – kajian seperti yang telah dijelaskan diatas berperan penting dalam membantu kita untuk memahami media, manipulasi terhadap public dan bentuk opini public. Ketika Lippmann, Lasswell, Bernays, dan Ellul telah mengkajinya beberapa tahun yang lalu, mereka kemudian mencoba untuk membantu kita untuk memahami masyarakat dengan fenomena – fenomena yang ada di masa kini.

Tentang Propaganda IV

Sambungan ...
Teori – Teori dan Karya – Karya Walter Lippmann

Ketika masih berada di Harvard, Lippmann banyak mempelajari ide – ide William James, George Santayana, dan Graham Wallas. Ia juga mempelajari ide – ide dari tulisan Sigmund Freud dan Karl Marx. Setelah kita mendiskusikan penelitian – penelitian Lippmann yang dipengaruhi oleh berbagai pemikir tersebut, penting artinya untuk mempelajari keseluruhan teori yang dimiliki Lippmann.
Selamam di Harvard, Lippmann memutuskan untuk mengejar cita – cita dengan berkarir di dunia jurnalistik, dan di kampus Harvard ia belajar filsafat. Pada akhir 1910, ia keluar dari bangku kuliah dan telah siap untuk mengejar cita – cita karirnya. Lippmann memulai karirnya dengan bekerja untuk Lincoln Steffens, penulis utama tentang sosialisme dan isu – isu seputar wall street. Setelah bekerja dengan Steffens, Lippmann mulai bekerja pada majalah intelektual elit yang dikenal dengan sebutan The New Republic. Ia bekerja di majalah ini selama 9 tahun, dan kemudian ia mengakhiri karirnya ini dan mulai menerbitkan tulisan – tulisannya.
Opini Publik / Public Oppinion
Public Opinion (1922) mungkin merupakan salah satu tulisan Lippmann yang paling terkenal. Lippmann memulai bukunya dengan menjelaskan situasi yang terjadi pada tahun 1914, dimana beberapa orang jerman, perancis dan inggris telah terjebak di pulau tersebut. Mereka tidak memiliki akses ke media dalam bentuk apapun, kecuali untuk setiap 60 hari sekali yakni ketika surat mendatanginya, mengingatkannya pada situasi yang sebenarnya didunia. Lippmann menjelaskan bahwa mereka hidup damai dipulau tersebut, menganggap satu sama lainnya sebagai teman, dimana sebenarnya perang tengah berkecamuk dan telah menghancurkan hubungan antar Negara meraka. Tujuan dari ilustrasi itu adalah untuk mengembangkan ide tentang “dunia diluar sana dan gambaran yang ada di benak kita” (Lippmann, 1922: 3). Lewat Public Oppinion, Lippmann menjelaskan cara bagaimana opini individu dapat berbeda dari yang telah ditunjukan didunia diluar sana. Ia mengembangkan ide tentang propaganda, mengakui bahwa “untuk membentuk sebuah propaganda, maka harus ada penghalang yang memisahkan antara public dengan kejadian yang sebenarnya terjadi (Lippmann, 1922: 28). Dengan pemisahan ini, maka media memiliki kemampuan untuk memanipulasi kejadian – kejadian yang sebenarnya terjadi atau media menyajikan informasi yang terbatas kepada public. Informasi itu mungkin saja tidak cocok dengan persepsi public atas kejadian – kejadian tersebut. Pada tahapan ini, Lippmann secara esensial menyajikan pandangannya yang pertama terhadap konsep komunikasi massa tentang “penjaga” gatekeeping dan agenda setting dengan cara memperlihatkan kekuatan media untuk menyajikan informasi terbatas kepada public.
Lippmann (1922) menjelaskan bagaimana individu menggunakan alat seperti stereotype untuk membentuk opininya, “we have to pick our samples and treat them as typical” (Lippmann, 1922: 95). Lippmann mengatakan bahwa public akan tetap dalam penilaian stereotipikalnya hingga pada saatnya media menyajikan informasi yang terbatas untuk merubah persepsi mereka terhadap suatu kejadian. Rogers (1994) meyakini bahwa pada titik ini, Lippmann telah memperlihatkan kepada kita bahwa “..pseudoenvironment yang diantarkan media kepada kita merupakan hasil dari fungsi gatekeeping media dalam proses pembuatan berita (hal 237). Lippmann meyakini bahwa media telah mengubah arus informasi, dengan cara membatasi isi media yang diberikan kepada public.
Lebih lanjut lagi, Lippmann menyajikan ide tentang agenda setting media, sebagaimana yang ia yakini bahwa media massa merupakan kaitan antara persepsi individu tentang dunia dan dengan dunia yang sebenarnya (Rogers, 1994)
Phantom Public
Phantom Public (1925) focus pada penjelasan tentang karakteristik public itu sendiri. Lippmann (1925), menggunakan buku ini untuk menunjukan ketidakmampuan public dalam menangkap pengetahuan tentang lingkungannya dan menunjukan kesalahan – kesalahan sebenarnya yang mendukung posisi mereka. Lippmann memberikan pandangan yang keras tentang public secara umum dengan mengatakan "The individual man does not have opinions on public affairs... I cannot imagine how he could know, and there is not the least reason for thinking, as mystical democrats have thought, that the compounding of individual ignorance in masses of people can produce a continuous directing force in public affairs" (hal. 39).
Buku ini menunjukan bahwa sebenarnya system demokrasi tidak dijalankan oleh rakyat secara umum, melainkan telah dikontrol oleh sekelompok atau sebagian elit terdidik. Rakyat tidak benar – benar tercerahkan dan berpengatahuan, oleh karena itu mereka akan dengan mudah ditempatkan disisi sekelompok kecil elit intelektual – bukan pada bagian yang utama -, ketika meyakinkan diri mereka sendiri bahwa sebenarnya mereka berada pada system yang dijalankan lewat peran mayoritas.
Karya Lippmann Lainnya
Lippmann juga mempublikasikan beberapa buku lainnya yang juga berkaitan dengan idenya tentang pemikiran politik yang berhubungan dengan public. Misalnya, A Preface to Politics (1913) dan Good Society (1936). Ketika karyanya ini sangat penting dalam memahami pikiran Lippmann mengenai hubungan antara public dan pemerintah, dilain pihak Public Oppinion dan Phantom Public merupakan karya yang paling relevan dengan kajian dalam komunikasi massa.

Tentang Propaganda III

Sambungan ...
Karl Marx (1818 – 1883)

Karl Marx memusatkan perhatiannya untuk menjelaskan perjuangan kelas yang terdapat dalam masyarakat (Rogers, 1994). Tulisannya yang paling terkenal adalah Das Kapital dan Communist Manifesto. Lewat karya – karyanya itu, Marx menjelaskan teori – teorinya tentang perjuangan kelas pekerja, keterasingannya (alienasi) dari pekerjaan mereka, dan kebutuhannya untuk memberontak melawan kaum elit dengan tujuan untuk mengambil kepemilikan atau pengusaan untuk tindakan – tindakannya dan mendapatkan kekuasaan (Rpgers, 1994).
Aliran Marxisme menjelaskan tentang bagaimana caranya kekuatan ekonomi mampu menciptakan perubahan masyarakat, dan kebutuhan untuk menghidupkan system komunis adalah bertujuan untuk mengembalikan kesetaraan dan keadilan dalam system tersebut.
Ketika masih di Harvard, Lippmann telah banyak membaca ide Marx seputar tema komunisme dan memilih untuk mendukung ideology sosialis (Steel, 1999). Lippmann juga bergabung dengan Fabian Society ketika ia masih bersekolah. Kelompok ini berkaitan dengan perjuangan kelas menengah dalam menegakan keadilan social. Berbeda dengan kaum marxis, Fabian tetap percaya dengan kehadiran dan peran dari para elit intelektual. Tema ini hadir dalam tulisan Lippmann (Phantom Public), yang menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya didominasi oleh sedikit dari para elit intelektual, meskipun memang mereka pada dasarnya mengikuti system yang dianut mayoritas.
Marx, meyakini bahwa media massa digunakan sebagai alat oleh kelas social elit untuk mengendalikan masyarakat. Tema ini dapat kita temukan dalam salah satu tulisan Lippmann (Public Oppinion (1922)). Yang menjelaskan bahwa media massa lah yang telah membedakan antara informasi apa yang dapat diakses atau dapat dinikmati dan bagaimana akses yang tersedia itu dapat membentuk opini public. Sisa – sisa pemikiran marxisme dapat ditemukan dalam tulisan Lippmann seperti dalam Public Oppinion dan Phantom Public. Pada tahun 1914, Lippmann sudah tidak lagi menjadi salah satu pendukung sosialisme dalam arti luas. Lebih lanjut lagi, tulisannya Good Society (1936) secara esensial malah memperlihatkan berbagai macam kritik terhadap berbagai teori sosialis yang dulunya pernah ia dukung. Dari titik ini, Lippmann menyebutkan kesalahan – kesalahan dalam teori – teori sosialis; fakta bahwa meskipun dengan menghapuskan kepemilikan pribadi dan mengembangkan kepemilikan public atau umum, orang – orang mungkin tetap tidak akan mengetahui bagaimana caranya mendistribusikan sumber – sumber ini dengan benar tanpa adanya eksploitasi. Lippmann berpendapat bahwa ini merupakan titik yang paling penting dari pendapat kaum sosialis, harapan bahwa eksploitasi, ketidakberdayaan dan antagonisme social akan menghilang dengan adanya kepercayaan terhadap keajaiban dari pemindahtanganan hak milik. Lippmann berhasil melihat hubungan antara orang – orang, lingkungannya dan pemerintahanya. Tema ini dapat ditemukan dalam teorinya, sebagaimana yang telah ia jelaskan tentang bagaimana dan mengapa public menjadi obyek dari manipulasi.
Sigmund Freud (1856-1939)
Selain dari pemikiran Marx, Lippmann juga dipengaruhi oleh pemikir lainnya. Seperti dalam tulisannya mengenai propaganda / komunikasi massa yang dipengaruhi oleh Freud. Pengaruh freud tidak hanya bisa ditemukan dalam kajian Lippmann daja, akan tetapi juga dapat ditemukan dalam beberapa kajian Lippmann kontemporer.
Freud sebenarnya ahli dalam bidang kedokteran yang kemudian dikenal sebagai salah satu ahli dalam bidang teori psikoanalisis (Rogers, 1994). Teori psikoanalisis berhubungan erat dengan bagaimana memahami isi pikiran individu. Freud telah membedakan kesadaran manusia kedalam tiga area penting, yakni tahapan kesadaran, pra – kesadaran dan ketidaksadaran.
Tahapan kesadaran mengandung sesuatu hal dimana kita memahami atau tahu tentang diri kita sendiri, tahap pra kesadaran mengandung sesuatu hal dimana kita dapat menjadi sadar jika memang kita membutuhkannya dan tahap ketidaksadaran mengandung suatu hal dimana kita tidak mengetahui dan memahami tentang diri kita sendiri (Rogers, 1994). Dari ketiga analisis individu tersebut, Freud berhasil memahami perilaku manusia. Keduanya, baik itu teori umumnya tentang psikoanalisis maupun tulisan Freud secara khusus seperti dalam “The Interpretation of dreams”, yang telah menjadi dasar yang sangat penting terhadap para peneliti kajian tentang propaganda. Tulisannya dalam the interpretation of dreams berangkat dari pemahamannya bahwa mimpi – mimpi merupakan bentuk dari pemenuhan kebutuhan atau harapan, ia menggambarkan sebuah keinginan yang tidak disadari yang hanya dapat dicapai ketika tengah tertidur lewat penciptaan mimpi untuk memenuhi kebutuhannya (Levin, 1929).
Lippmann kemudian mengaplikasikan ide ini dalam Public Oppinion (1922). Dalam tulisannya ini, Lippmann menekankan ide tentang “dunia diluar sana dan gambaran yang ada dalam benak kita” (1922: 3). Konsep ini mencakup ide bahwa persepsi seseorang terhadap suatu kejadian atau situasi mungkin tidak sama persis dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam lingkungannya. Ide ini telah dipengaruhi oleh tulisan Freud dalam The Interpretation Of Dreams, yang telah digunakan Lippmann untuk mengembangkan bukunya tentang “pseudoenvironment” yang terdapat dalam benak setiap orang (Rogers, 1994: 234).

Tentang Propaganda II

Sambungan ....
George Santayana (1863-1952)
Santayana adalah seorang filsuf di Harvard yang kerap mempengaruhi pemikiran – pemikiran Lippmann. Teori Santayana bergelut pada ide seputar esensi obyek – obyek yang didefinisikan oleh Munson (1962) sebagai “datum of intuition. Santayana tertarik untuk mengungkap berbagai macam esensi yang membangun kehidupan manusia: nilai – nilai yang dapat ditemukan dan kemudian dapat diterapkan pada pengalaman – pengalaman manusia (Steel, 1999). Tinjauan ini berbeda dengan teori yang dikembangkan James, yang juga telah di kembangkan oleh Lippmann. Steel (1999) menjelaskan bahwa James menitikberatkan pad ide seputar relativisme moral, atau kemampuan untuk menciptakan kebenaran yang dihasilkan dari penelitian atau observasi. Sedangkan Santayana telah memberikan perhatian serius pada “pencarian untuk menemukan nilai – nilai moral absolute yang dapat di rekonsiliasikan dengan pengalaman – pengalaman manusia (Steel, 1999: 21). Santayana mempengaruhi pemikiran Lippmann kemudian. Berkaitan dengan ide Santayana tentang esensi kemanusiaan dan kehidupan, merupakan idenya tentang bagaimana demokrasi bisa saja merupakan hasil dari tirani mayoritas (Steel, 1999: 21). Ide ini berhubungan dengan tulisan Lippmann selanjutnya dalam Phantom Public (mimpi masyarakat) (1925).
Phantom Public mengkaji masyarakat Amerika dalam system demokratis. Lippmann (1925) dari idenya mendapat kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat atau warga amerika tidak tercerahkan / bodoh khususnya dalam konteks isu – isu public, gampang sekali dimanipulasi menjadi bagian yang tersisihkan dari pihak mayoritas, dan oleh sebab itu, memainkan peranan yang sangat terbatas dalam proses demokrasi. Dalam hubungannya dengan demokrasi. Dalam system demokratis pihak mayoritas sebenarnya ditekan oleh opini yang berasal dari golongan minoritas. Jika Santayana mengatakan bahwa demokrasi adalah merupakan hasil dari tirani mayoritas, maka sebaliknya Lippmann mengatakan bahwa opini public memberikan sedikit pengaruh pada proses demokrasi karena propaganda dan system public telah dikendalikan oleh sedikit elit yang berpendidikan / pintar dan memiliki kekuasaan.
Graham Wallas (1858-1952)
Graham Wallas, adalah salah satu pendiri Fabian Society, salah satu yang juga memberikan pengaruh terhadap pemikiran dan ide Lippmann (Stell, 1999). Pandangan politiknya dapat dilihat dalam bukunya yang bercerita banyak tentang hubungan antara public dan lingkungannya. Wallas (1981) memberikan perhatian serius pada pemahaman public terhadap keadaan sekelilingnya. Ia mengatakan bahwa alam semesta menyajikan kepada public “ suatu sensasi dan memori yang mengalir tanpa akhir, setiap orang yang berbeda satu sama lainnya, dan yang mana sebelumnya, melainkan kita dapat memilih, menyebutkan dan menyederhanakan, kita sebenarnya pasti berada dalam kondisi yang tidak berdaya dan tidak mampu bertindak dan berpikir. Dalam pandangan ini Wallas memperlihatkan bahwa public pada dasarnya tidak mampu untuk menerjemahkan atau memahami lingkungan sekitarnya, rangsangan – rangsangan yang dihadirkan, terlalu banyak atau cukup rumit dalam memberikan modal untuk menghadirkan pemahaman.
Steel (1999) berpendapat bahwa ini merupakan ide Wallas terbesar yang memberikan pengaruh terhadap ide Lippmann khususnya dalam kajian tentang opini public. Dalam kajiannya ini, Lippmann mengambil ide Wallas tentang hubungan antara public dan lingkungan sekitarnya, dan telah mampu untuk memperlihatkan bahwa public sebenarnya tidak mampu untuk mendapatkan cukup pengetahuan dimana hal ini pda dasarnya akan diperlukan untuk memberikan pengaruh terhadap jalannya roda pemerintahan. Sebagai akibat dari interaksinya dengan ide – ide Wallas, Lippman kemudian memiliki kepercayaan kuat terhadap kaum sosialis, yang tidak hanya berasal dari pengalamannya selama di bangku kuliah, akan tetapi juga berasal dari beberapa tulisan Karl Marx.

Tentang Propaganda I

TENTANG PROPAGANDA
Dalam Kajian Ilmu Komunikasi
Walter Lippman, Harold D Lasswell, Edward Bernays dan Jacques Ellul
Sepanjang perang dunia pertama dan kedua, penelitian – penelitian komunikasi dititik beratkan pada kajian terhadap pengaruh propaganda. Satu pertanyaan penting yang harus dijawab adalah bagaimanakah caranya agar komunikasi bisa menjadi alat untuk menciptakan perubahan perilaku audiens atau masyarakat? Penelitian yang mengkaji wilayah ini kemudian berkembang cepat pada abad ke dua puluh dalam penelitian – penelitan komunikasi. Bagian ini membahas pertanyaan seputar propaganda, dilihat dari sudut pandang seseorang yang disebut – sebut sebagai salah satu pendiri kajian ilmu komunikasi Walter Lippmann.
Walter Lippmann (1889 – 1974)
Walter Lippmann dilahirkan pada tahun 1889 dan menghabiskan sebagian besar masa remajanya untuk mendalami seni seperti melukis dan seni music. Kemudian berpindah ke benua Eropa dan memperoleh banyak ilmu yang diperlihatkan dengan ketertarikannya untuk membaca banyak buku, semuanya dilakukan berdasarkan pada status ekonomi keluarganya yang tergolong mapan (Weingast, 1949). Pada tahun 1906 ia masuk Harvard. Pada masa kuliahnya, Lippmann perlahan – lahan mulai terkenal karena ide – ide cemerlangnya dan intelektualitasnya. Lippmann banyak dipengaruhi oleh para pemikir social pada masa itu seperti misalnya George Santayana, Wiliam James, dan Graham Wallas. Sulit rasanya untuk memhami pemikiran Lippmann sendiri tanpa kita memiliki sebuah pengetahuan tentang sudut pandang yang popular di Harvard. Ia telah banyak dipengaruhi oleh gerakan pragmatis amerika sebagaimana pemikir social dan sosiolog pada masa itu.
William James (1842 – 1910)
Banyak yang mengatakan bahwa James merupakan salah satu pemikir yang paling berpengaruh pada perkembangan pemikiran Lippmann selama ia berada di Harvard. Keduanya pertama kali bertemu saat Lippmann menerbitkan sebuah artikel pada sebuah majalah di kampus Harvard. Artikel Lippmann, ditulis sebagai respon atas buku Barret Wendell’s, yang mengomentari tentang keadilan social. James merasa terkejut dengan artikel yang ditulis Lippmann dengan pendekatan – pendekatan menarik yang ia lakukan. Dari sini James mulai berkenalan dengan Lippmannd dan keduanya mulai menjadi sepasang sahabat. William James mungkins alah seorang yang paling mengerti akan pragmatism. James (1907) mendefinisikan metode pragmatic sebagai “sikap untuk melihat pertama – pertama dari prinsip – prinsip, kategori – kategori, dan kepentingan – kepentingan, dan kemudian melihat jauh kedepan pada akhir sesuatu, konsekuensi – konsekuensi dan akhirnya sampailah pada fakta. Ia menjelaskan bagaimana pragmatism berkaitan erat dengan kebenaran, dan kebenaran dimana dapat di verifikasi. “Ide – ide yang sebenarnya adalah yang dapat kita satukan, validasi, kolaborasi dan verifikasi” (James, 1907: 88). Dalam konteks ini, James berpendapat bahwa untuk memahami dunia maka harus berdasarkan pada bagaimana mempertahankan persepsi signifikan dari pengaruh – pengaruh obyek – obyek yang mengelilingi individu – individu. Meskipun Lippman berangkat dari pragmatism yang dikembangkan dengan caranya sendiri, namun ia mengakui bahwa hal itu banyak dipengaruhi oleh pemikiran – pemikiran James yang ia terapkan dalam kehidupannya sehari – hari. Steel (1999) mengatakan salah satu dari ide – idenya adalah meliorisme atau ide dimana “sesuatu dapat dikembangkan akan tetapi tidak akan pernah mencapai tahap kesempurnaan. Yang lainnya secara praktis mengatakan bahwa hal itu adalah ide dimana seseorang harus mengambil keputusan tanpa merasa khawatir apakah hal itu akan sempurna atau tidak (Steel, 1999: 18).

Rabu, 19 September 2007

Gramsci,,

AN INTRODUCTION TO GRAMSCI'S LIFE AND THOUGHT
by
FRANK ROSENGARTEN





Antonio Gramsci was born on January 22, 1891 in Ales in the province of Cagliari in Sardinia. He was the fourth of seven children born to Francesco Gramsci and Giuseppina Marcias. His relationship with his father was never very close, but he had a strong affection and love for his mother, whose resilience, gift for story-telling and pungent humor made a lasting impression on him. Of his six siblings, Antonio enjoyed a mutual interest in literature with his younger sister Teresina, and seems to have always felt a spiritual kinship with his two brothers, Gennaro, the oldest of the Gramsci children, and Carlo, the youngest. Gennaro's early embrace of socialism contributed significantly to Antonio's political development.

In 1897, Antonio's father was suspended and subsequently arrested and imprisoned for five years for alleged administrative abuses. Shortly thereafter, Giuseppina and her children moved to Ghilarza, where Antonio attended elementary school. Sometime during these years of trial and near poverty, he fell from the arms of a servant, to which his family attributed his hunched back and stunted growth: he was an inch or two short of five feet in height.

At the age of eleven, after completing elementary school, Antonio worked for two years in the tax office in Ghilarza, in order to help his financially strapped family. Because of the five-year absence of Francesco, these were years of bitter struggle. Nevertheless, he continued to study privately and eventually returned to school, where he was judged to be of superior intelligence, as indicated by excellent grades in all subjects.

Antonio continued his education, first in Santu Lussurgiu, about ten miles from Ghilarza, then, after graduating from secondary school, at the Dettori Lyceum in Cagliari, where he shared a room with his brother Gennaro, and where he came into contact for the first time with organized sectors of the working class and with radical and socialist politics. But these were also years of privation, during which Antonio was partially dependent on his father for financial support, which came only rarely. In his letters to his family, he accused his father repeatedly of unpardonable procrastination and neglect. His health deteriorated, and some of the nervous symptoms that were to plague him at a later time were already in evidence.

1911 was an important year in young Gramsci's life. After graduating from the Cagliari lyceum, he applied for and won a scholarship to the University of Turin, an award reserved for needy students from the provinces of the former Kingdom of Sardinia. Among the other young people to compete for this scholarship was Palmiro Togliatti, future general secretary of the Italian Communist Party (PCI) and, with Gramsci and several others, among the most capable leaders of that embattled Party. Antonio enrolled in the Faculty of Letters. At the University he met Angelo Tasca and several of the other men with whom he was to share struggles first in the Italian Socialist Party (PSI) and then, after the split that took place in January 1921, in the PCI.

At the University, despite years of terrible suffering due to inadequate diet, unheated flats, and constant nervous exhaustion, Antonio took a variety of courses, mainly in the humanities but also in the social sciences and in linguistics, to which he was sufficiently attracted to contemplate academic specialization in that subject. Several of his professors, notably Matteo Bartoli, a linguist, and Umberto Cosmo, a Dante scholar, became personal friends.

In 1915, despite great promise as an academic scholar, Gramsci became an active member of the PSI, and began a journalistic career that made him among the most feared critical voices in Italy at that time. His column in the Turin edition of Avanti!, and his theatre reviews were widely read and influential. He regularly spoke at workers' study-circles on various topics, such as the novels of Romain Rolland, for whom he felt a certain affinity, the Paris Commune, the French and Italian revolutions and the writings of Karl Marx. It was at this time, as the war dragged on and as Italian intervention became a bloody reality, Gramsci assumed a somewhat ambivalent stance, although his basic position was that the Italian socialists should use intervention as an occasion to turn Italian national sentiment in a revolutionary rather than a chauvinist direction. It was also at this time, in 1917 and 1918, that he began to see the need for integration of political and economic action with cultural work, which took form as a proletarian cultural association in Turin.

The outbreak of the Bolshevik revolution in October 1917 further stirred his revolutionary ardor, and for the remainder of the war and in the years thereafter Gramsci identified himself closely, although not entirely uncritically, with the methods and aims of the Russian revolutionary leadership and with the cause of socialist transformation throughout the advanced capitalist world.

In the spring of 1919, Gramsci, together with Angelo Tasca, Umberto Terracini and Togliatti, founded L'Ordine Nuovo: Rassegna Settimanale di Cultura Socialista (The New Order: A Weekly Review of Socialist Culture), which became an influential periodical (on a weekly and later on a bi-monthly publishing schedule) for the following five years among the radical and revolutionary Left in Italy. The review gave much attention to political and literary currents in Europe, the USSR, and the United States.

For the next few years, Gramsci devoted most of his time to the development of the factory council movement, and to militant journalism, which led in January 1921 to his siding with the Communist minority within the PSI at the Party's Livorno Congress. He became a member of the PCI's central committee, but did not play a leading role until several years later. He was among the most prescient representatives of the Italian Left at the inception of the fascist movement, and on several occasions predicted that unless unified action were taken against the rise of Mussolini's movement, Italian democracy and Italian socialism would both suffer a disastrous defeat.

The years 1921 to 1926, years "of iron and fire" as he called them, were eventful and productive. They were marked in particular by the year and a half he lived in Moscow as an Italian delegate to the Communist International (May 1922- November 1923), his election to the Chamber of Deputies in April 1924, and his assumption of the position of general secretary of the PCI. His personal life was also filled with significant experiences, the chief one being his meeting with and subsequent marriage to Julka Schucht (1896-1980), a violinist and member of the Russian Communist Party whom he met during his stay in Russia. Antonio and Julka had two sons, Delio (1924-1981), and Giuliano, born in 1926, who lives today in Moscow with his wife.

On the evening of November 8, 1926, Gramsci was arrested in Rome and, in accordance with a series of "Exceptional Laws" enacted by the fascist-dominated Italian legislature, committed to solitary confinement at the Regina Coeli prison. This began a ten-year odyssey, marked by almost constant physical and psychic pain as a result of a prison experience that culminated, on April 27, 1937, in his death from a cerebral hemorrhage. No doubt the stroke that killed him was but the final outcome of years and years of illnesses that were never properly treated in prison.

Yet as everyone familiar with the trajectory of Gramsci's life knows, these prison years were also rich with intellectual achievement, as recorded in the Notebooks he kept in his various cells that eventually saw the light after World War II, and as recorded also in the extraordinary letters he wrote from prison to friends and especially to family members, the most important of whom was not his wife Julka but rather a sister-in-law, Tania Schucht. She was the person most intimately and unceasingly involved in his prison life, since she had resided in Rome for many years and was in a position to provide him not only with a regular exchange of thoughts and feelings in letter form but with articles of clothing and with numerous foods and medicines he sorely needed to survive the grinding daily routine of prison life.

After being sentenced on June 4, 1928, with other Italian Communist leaders, to 20 years, 4 months and 5 days in prison, Gramsci was consigned to a prison in Turi, in the province of Bari, which turned out to be his longest place of detention (June 1928 -- November 1933). Thereafter he was under police guard at a clinic in Formia, from which he was transferred in August 1935, always under guard, to the Quisisana Hospital in Rome. It was there that he spent the last two years of his life. Among the people, in addition to Tania, who helped him either by writing to him or by visiting him when possible, were his mother Giuseppina, who died in 1933, his brother Carlo, his sisters Teresina and Grazietta, and his good friend, the economist Piero Sraffa, who throughout Gramsci's prison ordeal provided a crucial and indispenable service to Gramsci. Sraffa used his personal funds and numerous professional contacts that were necessary in order to obtain the books and periodicals Gramsci needed in prison. Gramsci had a prodigious memory, but it is safe to say that without Sraffa's assistance, and without the intermediary role often played by Tania, the Prison Notebooks as we have them would not have come to fruition.

Gramsci's intellectual work in prison did not emerge in the light of day until several years after World War II, when the PC began publishing scattered sections of the Notebooks and some of the approximately 500 letters he wrote from prison. By the 1950s, and then with increasing frequency and intensity, his prison writings attracted interest and critical commentary in a host of countries, not only in the West but in the so-called third world as well. Some of his terminology became household words on the left, the most important of which, and the most complex, is the term "hegemony" as he used it in his writings and applied to the twin task of understanding the reasons underlying both the successes and the failures of socialism on a global scale, and of elaborating a feasible program for the realization of a socialist vision within the really existing conditions that prevailed in the world. Among these conditions were the rise and triumph of fascism and the disarray on the left that had ensued as a result of that triumph. Also extremely pertinent, both theoretically and practically, were such terms and phrases as "organic intellectual," "national'popular," and "historical bloc" which, even if not coined by Gramsci, acquired such radically new and original implications in his writing as to constitute effectively new formulations in the realm of political philosophy.