PARTNER

Jumat, 03 Desember 2010

Pak Beye dan ipad


Pak Beye dan ipad
IPAD, apa sih Ipad? Makanan kah? Semacam gorengan gitu? Ah sepertinya bukan. Lucu aja kalau ternyata ada gorengan namanya Ipad. Pertama kali yang terlintas dipikiran saat mendengar kata Ipad, adalah teknologi, teknologi paling gres alias anyar. Jauh jika dibandingkan dengan kalkulator yang sering digunakan para pedagang beras di pasar. Lha ngapain juga ngebandingin Ipad ma kalkulator?
Aku sendiri adalah seorang pengagum ipad. Ingin sekali rasanya mempunyai gadget canggih yang satu ini. Tapi… harganya itu lhoo, belom kesampe’an. Off the record aja ya, beberapa kali aku berhasil menjadi buronan no satu bapak kos, karena menunggak uang kos selama beberapa bulan.
Sebenarnya ada ipad – ipad yang lain yang menawarkan harga lebih murah. Ada yang namanya apad dan bahkan dengan nama ipad. Tapi bedanya, gadget yang ini diproduksi oleh perusahaan asal china, jadi wajar saja jika harganya lebih murah. Dan aku sama sekali tidak tertarik. Beberapa teman mengatakan kalau kualitasnya jauh jika dibandingkan dengan yang asli, cepat rusak, dan layar sentuhnya kurang sensitif. Ya iyalah, dari harganya aja udah beda.
Tapi bukan hanya dari segi kualitas aja, produsen ipad, memiliki brand yang luar biasa terkenal. Penuh gengsi dan kelas atas banget. Ya dialah apple inc. perusahaan terkenal yang memproduksi Mac, Iphone, dan Ipod. Apple berhasil mengembangkan usahanya dengan mengedepankan gadget teknologi tinggi dan desain yang sangat simple tapi tidak kalah dari segi performance nya. Apple inc hadir dengan logo, buah apel separoh. Bisa anda bayangkan, itu baru separo, gimana kalo ternyata nanti apple inc, mengganti logonya dengan buah apel yang utuh. Aku sendiri belom bisa membayangkannya. Yang jadi pertanyaanku, siapa tuh yang berani makan buah apel perusahaan besar ini? Tega amat, tinggal satu eh malah dimakan, beruntung disisakannya separo. Kalo dihabiskan, bakal kelabakan tuh apple inc gak punya logo..hahaha
Sudah cukup bahas tentang ipad, soalnya aku bukan bahas ipad nya tapi bahas yang ini lhoooo..

Ya.. kemaren akhirnya presiden menjawab polemik yang berkembang di masyarakat terkait dengan isu status keistimewaan Yogyakarta. Namun, beberapa kalangan masih belum puas, bahkan beberapa pengamat politik mengatakan bahwa pidato presiden lebih mirip kuliah umum. ya apapun itu, aku tidak akan mengomentari pidatonya. Lha terus mau ngomongin apaan?
Ya kita ngomongin ipad yang dipakai Pak Pres aja deh ya..
Kalo gitu kembali lagi dunk ke tulisan sebelumnya. Lha terus kenapa kalo kembali lagi? Terserah dunk, orang aku yang nulis koq..hahahaha
Ipad menjadi simbol kemajuan teknologi, simbol kemudahan, simbol kemutakhiran, simbol modern masyarakat urban, simbol kelas, simbol nilai dan simbol budaya popular.
Yang jadi pertanyaanku, kenapa Pak Pressiden gak dari dulu pakai ipad ya? Beliau malah lebih sering pakai ini ni 

Biar mirip yang ini :

Beliau menggunakan ipad yang merupakan simbol modernitas ketika sedang membicarakan tradisionalisme keluhuran budaya Yogyakarta.
Menurut pendapat saya sih, pak presiden kali ini tengah memberikan pesan, ini lho yang modern, yang urban, ipad gituuuuh.
Beberapa orang sempat ramai membicarakan hal ini, misalnya di twitter. Aku terkejut saat ada yang menulis seperti ini “ Pak Presiden jadi Bintang iklan ipad” hah? Yang bener?
Oh ternyata ini toh maksudnya…no komeng ah.
Sebenernya masih banyak yang bisa ditulis, tapi berhubung ada sesuatu hal, jadi udah segini dulu aja ntar disambung lagi
INTERUPTUS ………..

Selasa, 30 November 2010

Menonton Bencana


Suatu Malam Di Yogyakarta Senin, 17.30 WIB (29/11/2010).
Tidak seperti biasanya, Jalan Jendral Sudirman yang berada tepat di depan kantorku macet parah. Motor, Mobil, Bus, dan pejalan kaki berbondong - bondong melaju ke arah barat, tepatnya mengarah ke jembatan Gondolayu, Gondokusuman, Kotabaru, Yogyakarta.
Ada apakah gerangan? Tidak biasanya macet seperti ini.
Saya yang saat itu sedang menyantap nasi angkringan, tiba - tiba terkejut mendengar salah satu warga yang bercerita bahwa saat itu kali code tengah dilanda banjir lahar dingin.
Sontak saya langsung mengakhiri ritual makan malam di warung sederhana itu, dan kemudian beranjak menuju ke arah jembatan Gondolayu.
Saya kaget, ternyata benar. Telah terjadi banjir lahar dingin kiriman dari hulu sungai gendol di kaki gunung merapi dan airnya mengalir deras ke sungai code yang membelah kota Yogyakarta.
Air datang secara tiba - tiba, kemudian mengalir deras, bergulung - gulung, menciptakan riak yang tampak tidak beraturan. Beberapa rumah yang berada di bantaran Kali Code, Gondokusuman mulai tergenang air. Warga setempat panik, kemudian mengungsi di gedung Jogja Student Center yang letaknya tidak jauh dari bantaran kali code, hanya saja gedung tersebut terletak jauh lebih tinggi dari pemukiman warga yang terkena dampak langsung aliran banjir lahar dingin.
Menurut beberapa warga, air mulai meninggi sejak pukul 17.30 WIB. Pak RT kemudian menghimbau Warga Gondokusuman untuk segera meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Beruntung,  Pak RT dan beberapa warga sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Sehingga warga dapat dievakuasi tepat pada waktunya. Tidak ada warga yang menjadi korban dalam bencana ini. Hanya saja beberapa rumah tampak sudah terendam.
Ada hal yang menarik perhatian saya selain peristiwa itu sendiri, yaitu kedatangan warga yang penasaran menyaksikan peristiwa itu secara langsung.
Mereka berderet di pinggir jembatan, pandangannnya masing – masing tertuju pada satu titik yaitu luapan air yang datang begitu deras.
Semakin banyak warga berdatangan, berkumpul di atas jembatan tersebut. Melihat situasi tersebut, polisi kemudian turun tangan untuk menertibkan lalu lintas yang terlihat sudah kacau balau karena kerumunan massa.
Polisi dibantu Tim SAR kemudian mengusir warga yang masih berada di atas jembatan. Ada kabar bahwa jembatan sudah retak dan dikhawatirkan tidak mampu menahan beban massa yang semakin berat.
Kemudian jalan ke arah jembatan ditutup total, tidak ada satupun kendaraan yang diperbolehkan melintas. Tapi tetap saja ada warga yang nekat menerobos penjagaan aparat.
Meskipun sudah diperingatkan berkali – kali, tampaknya masyarakat tidak menghiraukan anjuran tersebut. Mereka tetap saja memaksa menonton bencana yang tengah berlangsung.
Seorang Tim SAR kemudian berlari ke tengah jembatan, kemudian ia berteriak dengan lantang melalui pengeras suara “Ini bukan tempat wisata, Ini Bencana !”
Sebuah kalimat yang sarat makna mendalam, yang lahir dari rasa prihatin atas apa yang terjadi.
Bencana telah menjadi tontonan!
Entah mereka peduli atau hanya memuaskan rasa penasaran mereka.